Edukasi

Makna Maksiat ketika Sendiri dan Sepi

Alfin Hidayat
×

Makna Maksiat ketika Sendiri dan Sepi

Sebarkan artikel ini
maksiat ketika sendiri
Ilustrasi foto: Unsplash/Chad Stembridge

Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.

BARISAN.CO – Mengerjakan maksiat ketika sendiri atau berbuat doa di waktu sepi sebagaimana Ali bin Abi Thalib memberikan nasihatnya:

“Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.” Ali bin Abi Thalib

Melakukan sebuah kebaikan terkadang sering kita perlihatkan kepada orang lain agar mereka juga tahu bahwa kita adalah orang yang baik. Maka berlaku sebuah keburuhan pastilah akan ditutup rapat-rapat agar orang lain tidak mengetahui.

Itu karakter satu hal, ada pula yang melakukan kebaikan yang tidak ingin orang lain tahu, dengan alasan menjauhi riya’. Pastinya juga akan sama dengan dosa, semua orang tidak ingin yang lain tahu akan perbuatan dosanya.

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa ketika orang lain memandang buruk kita maka sesungguhnya itu adalah bagian dari kemurahan Allah Swt. Karena apa yang diketahui orang lain tentang kita adalah sebagaian kecil dari rahasia hidup kita dan hanya kita yang tahu.

Padahal sebagaian besar dari ‘rahasia’ hidup kita bisa jadi berisikan dosa-dosa ataupun keburukan kita sendiri, seperti maksiat ketika sendiri. Artinya bahwa dalam hal ini Allah Swt telah menutup tabir keburukan kita dihadapan manusia yang lain, maka ketika Allah tidak menutupnya niscaya orang lain tidak akan percaya.

Keburukan ataupun dosa yang akan kita lakukan akan menjadi efek jera ketika ada orang lain yang mengetahuinya karena kemudian kita akan malu dengan apa yang kita lakukan. Namun bagaimana ketika kita berbuat dosa tanpa ada satu orangpun yang tahu tentang apa yang kita lakukan.

Bagi orang yang belum mendapatkan hidayah, maka keburukan itu akan terus berlangsung sampai orang itu sadar dan bertaubat dan tidak mengulanginya lagi. Parahnya bagi orang yang mendapatkan petunjuk namun dia sendiri tidak sadar akan datangnya petunjuk itu, maka keburukan yang ia lakukan pun akan menjadi langgeng.

Hal itu akan menjadi tragis ketika dia tahu bahwa itu salah namun dia tetap melakukan sebuah kesalahan. Contohnya adalah korupsi, perampokan, ataupun perbuatan maksiat lainnya yang sudah jelas akan hukum dosanya.

Mereka tahu bahwa hal itu tidak baik dan berdosa ketika melakukan keburukan tersebut. Maka dalam hal ini Ali bin Abi Thalib mangatakan bahwa kita akan menjadi saksi dan hakim bagi diri kita sendiri ketika kita melakukan sebuah keburukan di saat sendirian.

Hal ini juga sebagaimana hadits tentang berbuat dosa saat sepi atau bermaksit ketika sendiri, Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”