Ekonopedia

Memahami Indikator Ketimpangan [Bagian Empat]

Avatar
×

Memahami Indikator Ketimpangan [Bagian Empat]

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Data ketimpangan ekonomi dari BPS yang tersedia rutin termasuk kategori ketimpangan hasil dalam klasifikasi United Nations Development Programme (UNDP). BPS sendiri lebih mengandalkan data pengeluaran atau konsumsi penduduk. Sementara itu, Bank Dunia dengan berbagai data BPS dan informasi lainnya, menghitung dan menyajikan ketimpangan pendapatan Indonesia. Hal itu telah dibahas pada tulisan bagian satu hingga bagian tiga.

Ukuran ketimpangan hasil yang lain berupa ketimpangan kekayaan antarpenduduk. Cukup jelas bahwa kekayaan tidak sama dengan pendapatan atau pengeluaran. Kekayaan mencakup aset finansial dan aset nonfinansial, seperti tanah, rumah, mobil, dan lainnya. BPS dan Bank Dunia belum menghitung ini, sekurangnya belum ada publikasi rutin.

Lembaga yang telah melakukannya adalah Credit Suisse, suatu korporasi keuangan internasional yang terpandang. Publikasi tentang perkembangan dan distribusi kekayaan secara global serta kondisi banyak negara dilakukan secara rutin. Laporannya yang dikenal luas adalah the Global Wealth Reports dan Global Wealth Databook yang dikeluarkan tiap tahun. Data tentang Indonesia, termasuk dalam laporan tersebut.

Credit Suisse mengaku menghitungnya berdasar data resmi, data perbankan, data pasar modal, serta investigasi yang mereka lakukan. Termasuk wawancara kepada beberapa pihak, terutama yang memiliki kakayaan sangat besar dari berbagai negara.

Kekayaan penduduk dewasa Indonesia dilaporkan bertambah selama periode 2010-2019, dari US$1,12 triliun menjadi US$1,82 triliun. Rata-rata kekayaan penduduk dewasa Indonesia pun tampak meningkat. Dari US$7.461 pada tahun 2010 menjadi US$10.545 pada tahun 2019. Sebagai tambahan informasi, rata-ratanya pada tahun 2000 masih sebesar US$2.952.

Laporan memperlihatkan kenaikan kekayaan dilihat dari masing-masing kelompok penduduk berlangsung secara tidak merata. Porsi kelompok terbawah cenderung berkurang, sedangkan kelompok teratas cenderung bertambah.

Porsi 40 persen terbawah (desil 1-4) turun dari 2,6 persen (2010) menjadi 1,5 persen (2019) dari total kekayaan. Sedangkan porsi 30 persen teratas (desil 7-10) mengalami kenaikan, dari 87,1 persen menjadi 91,7 persen.


Distribusi Kekayaan Penduduk Indonesia (%)

(Sumber data: Credit Suisse, diolah)


Dilihat lebih jauh, kenaikan kekayaan signifikan terjadi pada 10% kelompok teratas atau kelompok desil satu. Porsinya meningkat dari 66,8% (2010) menjadi 74,1% (2019) dari total kekayaan. Meski demikian, porsinya mulai sedikit menurun selama beberapa tahun terakhir.


Distribusi Kekayaan Penduduk Indonesia Menurut Desil (%)

(Sumber data: Credit Suisse, diolah)


Jumlah jutawan, yaitu mereka yang memiliki kekayaan di atas satu juta dolar, dilaporkan cenderung bertambah. Dari 60 ribu orang pada tahun 2010, menjadi 98 ribu orang pada tahun 2014, hingga mencapai 106 ribu orang pada tahun 2019. Secara persentase, jumlah jutawan pada 2019 hanya sekitar 0,06 persen dari penduduk dewasa. Meningkat dibanding 2010 yang hanya 0,04 persen.

Pada saat bersamaan, mereka yang memiliki kekayaan di bawah US$10 ribu ternyata meningkat, dari 116,73 juta orang menjadi 141,12 juta orang. Secara proporsi pun terjadi peningkatan, dari 77,80% (2010) menjadi 81,60% (2019). Dengan kata lain, ketimpangan meningkat cukup signifikan dilihat dari data ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *