Opini

Mengenang Radhar Panca Dahana (1965-2021): HIDUP HARUS LEBIH DARI SEKADARNYA

Opini Barisan.co
×

Mengenang Radhar Panca Dahana (1965-2021): HIDUP HARUS LEBIH DARI SEKADARNYA

Sebarkan artikel ini

Ketika novel pertama Imperia (2005) beredar, ulasan di majalah Tempo atas novel ini ditulis oleh Radhar. Bisa dibayangkan kegembiraan saya. Sebab meski saya kenal baik dengannya, saya tak punya keberanian untuk memintanya menulis resensi. Bahkan saat masih draf pun saya tak punya nyali untuk meminta Radhar membaca. Rupanya redaktur buku di Tempo saat itu (Idrus F. Shahab) yang meminta Radhar sebagai peresensi. Radhar memenuhi amanah itu dengan adil dan profesional. Dia “melupakan pertemanannya” dengan saya dan berkonsentrasi sebagai pembaca yang menghadapi karya. Tak ada embel-embel lain. Kritiknya tajam meski tetap suportif.

Sepanjang tahun 2020 lalu, kami cukup intens berkomunikasi sejak awal meruyaknnya pandemi sampai akhir tahun. Radhar saya ajak bergabung dengan salah satu grup WA di mana saya menjadi salah seorang adminnya. Dia menolak dengan sopan. “Saya sedang mengurangi aktivitas medsos, terutama WA. Banyak sekali perdebatan tak penting di WA. Selain itu saya sedang mengembangkan YouTube Channel ya, kita japrian terus saja ya, Mal?”

Kini kiriman YouTube Channel dan informasi lain dari Radhar melalui japri akan terhenti selamanya karena sang content creator dan penulis produktif ini sudah kembali menghadap Sang Pencipta. Radhar sudah membuktikan dengan hidupnya sendiri yang tak pernah sekadarnya dalam ikut menjaga dan merawat cara berpikir bangsa dan tegaknya peradaban yang sehat, di tengah kondisi tubuhnya yang didera belasan penyakit komplikasi selama lebih dari dua dekade terakhir. Dia tak pernah takluk oleh keterbatasan raga betapa pun beringas aneka penyakit mendera tubuhnya yang ringkih.

Selamat jalan kawanku, sahabatku, guruku.

Aku bersaksi bahwa engkau, Radhar Panca Dahana, adalah orang baik, penuh perhatian kepada sesama, suportif terhadap para pemula, dan begitu tulus mencintai negeri ini yang selalu membuatmu resah memikirkannya setiap saat.

Kepulanganmu ke Negeri Keabadian di bulan suci Ramadhan adalah salah satu isyarat Tuhan Yang Maha Rahman memberikan waktu terbaik bagimu yang telah paripurna mengemban tugas sebagai penjaga akal sehat peradaban. Sebuah akhir kehidupan yang indah dan husnul khatimah. Al Fatihah.

Cibubur, 23 April 2021

* Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *