Meski Tervonis Tak Wajar

  • Whatsapp
Edan

Barisan.co – TAHUN 2008, saya menempati petak rumah sederhana, hasil cicilan dengan agunan BPKB, dan lainnya—saya lupa menyebutkannya satu per satu, saking banyaknya. Kompleks perumahan wilayah Kota kecil Ungaran, perbatasan dengan Kota Semarang, kini telah menoreh banyak dambaan. Banyak kisah duka dan suka terekam rapi di benak. Dengan kemampuan ala kadar, kemampuan otodidak, yang bukan olahan kampus dan lembaga pendidikan mana pun, saya rajut rekaman itu sebagai album catatan.

Ya, inilah catatan seorang pendamba. Catatan seorang ayah bagi Ahimsa dan Rakai. Catatan seorang suami bagi Rahma. Catatan selaku hamba Tuhan, yang selalu menuntut perhatian. Sebagai khalifatullah, yang minta ampun tak segampang diangan.

Terus terang, memang, saya bukan pencatat yang baik. Bukan perekam kisah yang telaten dan sabar, yang selalu menuliskan lintasan perasaan dan pikiran dalam bait rapi. Barangkali, lantaran saya tak memiliki basis pendidikan memadai. Perjalanan akademis saya tidak lancar, tak pelak di sana-sini silang sengkarut ketidaklogisan nalar bertebaran bak cendawan di musim hujan.

Tahun 1997, saya mencoba peruntungan mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), dan diterima di kampus Undip, Fakultas Sastra jurusan sejarah. Namun, saya tak menuntaskan hingga purna kuliah. Saya tak nyaman berlama-lama di tengah atmosfir kampus. Hanya bertahan dua tahun. Tidak lebih.

Tahun 1999, saya asyik mengikuti gemuruh parlemen jalanan. Dan, kampus mentereng kebanggaan warga Semarang itu pun saya tinggalkan. Saat itu, saya berpikir kampus hanya layak untuk mereka yang mengangankan jadi tukang atau pekerja pabrik, jadi pemasar perusahaan atau semata pegawai negeri. Kampus bukan habitat orang-orang yang merindui sebuah gagasan besar, sebuah kebebasan berpikir, kebebasan bereskpresi. Termasuk pula, kebebasan bertuhan. Saya terlahir sebagai penyuka ketidakteraturan, dan betapa kampus bak penjara yang serba mengurung.

Sebab kepongahan saat itu, kini saya tak memiliki basis teori. Saya kehilangan  konsep filsafat yang baku, yang sewaktu bisa dipakai untuk menganalisa masalah. Akhirnya, hanya mengandalkan buku dan buku, sebagai karib seiring.

Sebab kepongahan itu pula, kini saya berjarak dari karir. Saya kalah berkompetisi saat hendak menekuni profesi kerja. Saya tak menguasai keahlian khusus.

Lantaran latar pendidikan tak memadai, kemampuan minim, mengantar saya pada jalur hidup penuh spekulasi. Pola yang, oleh kebanyakan, dijauhi karena dianggap tak memiliki kejelasan masa depan. Hanya mengandalkan untung-untungan. Tidak ada kepastian budget tersimpan di deposito. Namun, itulah yang kini (terpaksa) saya lakoni bersama istri dan anak-anak. Melakoni drama ketidaklaziman. Dan sungguh, betapa Tuhan penuh welas asih. Saya masih kebagian jatah penghidupan. Meski, tak seindah puisi Sapardi Joko Darmono. Tak sesejuk bait-bait Rumi.

Kita mafhum, yang tak lazim itu berarti kesendirian. Dan, hanya berkawan dengan segelintir kalangan. Untung saja, tahun 2008, Perumahan Bukit Asri II, tempat saya tinggal, masih terhitung baru. Hanya sembilan kepala keluarga yang menghuni. Karena kebaruannya, jiwa korsa, rasa kebersamaan, serasa kental. Segalanya dibicarakan dan diangkat bersama-sama. Seperti masalah air, atau yang lain, kami bereskan secara berjamaah. Kami mendatangi ramai-ramai pengembang, dan seterusnya.

Kolektivitas serasa menyenangkan. Segala teratasi secara gotong royong. Namun, di balik itu, tetap terselip rasa tak nyaman. Jiwa kolektif, mengandaikan kebersamaan yang minus privasi, berasa menguliti kloset rahasia kami masing-masing. Kolektif telah menutup kemungkinan adanya ruang privasi. Urusan remeh sampai rahasia keluarga, sebab kolektif, jadi rahasia bersama, semua saling tahu. Masalah hutang, cicilan rumah, sepeda motor, sampai tunggakan SPP anak, jadi konsumsi bersama. Saya jadi tak nyaman, merumpi ngalor ngidul tiada ujung pangkal, membeberkan aib sendiri, hingga membicarakan kebiasaan aneh tetangga lain.

Alhasil, saya merasa awal menghuni perumahan, serasa hidup dalam kepura-puraan. Hidup dalam ketidaksungguhan. Tidak apa adanya. Segalanya jadi rayahan, jadi bahan omongan se-kompleks? Syukur kemudian, Tuhan menjawab ketidaknyamanan saya: tradisi serba bersama, lambat laun memudar. Tak sampai lebih dari dua tahun, kebiasaan bersama-sama itu menyurut, seiring laju pertambahan penghuni perumahan.

Tahun 2008 ada sembilan kepala keluarga, tahun 2010 melesat jadi 37 keluarga, kini sudah hampir 80, dan akan terus bertambah hingga 100 unit. Laju yang sungguh pesat untuk sebuah kompleks di pinggiran kota. Kebiasaan nongkrong di pos ronda, yang semula hampir saban malam, mulai tahun 2010 ditinggalkan. Rumah-rumah telah banyak berbenah, pagar rapat, dan ber-AC, sehingga rata-rata penghuni enggan keluar rumah, selain seperlunya saja.

Budaya kolektif menguap, walau tak 100 %. Namun, saya merasa terbebas dari perasaan bersalah. Tiada lagi kewajiban ritus meronda tiap malam. Tiada lagi seremoni membeber rahasia pribadi, dan menguak luka orang lain. Saya terbebas dari rasa sungkan, bahwa saya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Tak ada lagi perasaan rendah diri, walau ada senjang karir. Walau celah mendulang pundi teramat minim, dan kenyataan gubuk kami yang tak kunjung mulus.

Budaya kolektif raib, dan pelan-pelan bersemi gejala individualis. Gejala sendiri-sendiri, tak memedulikan kanan kiri. Lantas, inikah yang terbaik?

Jelas tidak. Tetap berkemungkinan plus minus. Tidak sepenuhnya baik, pun sebaliknya tidak jelek melulu. Saya menikmati gejala individualis, karena kita bisa bebas mengekspresikan diri segila mungkin, tanpa tudingan dan sorotan yang berarti dari mata-mata tetangga. Kita dapat menentukan arah biduk rumah tangga, tanpa campur tangan kanan kiri, yang semula selalu diusili: “kenapa begini, kenapa begitu?” Kita menjadi raja untuk diri sendiri.

Asosial! Ya, itu minusnya. Serasa tiada kawan karib seiring untuk dimintai tolong. Urusan air yang tiba-tiba mogok, berhenti mengalir di salah satu penghuni, misalnya, tidak lagi patut dibicarakan bersama dan apalagi menjadi urusan bersama. Air tidak mengalir, ya, harus dibenahi sendiri, kalau tidak sanggup, ya, mesti bayar tukang. Selesai perkara. Gaya hidup bersama, gotong royong, bukan lagi santapan mata sehari-hari.

Terus bagaimana? Memang, apa pun kenyataan, tiada ideal. Tetap hukum plus minus yang berlaku. Tidak ada yang mutlak sempurna, tidak ada yang 100 % memuaskan hati. Dari sinilah saya belajar, bukanlah kesempurnaan hidup yang dikejar, bukan kepuasan hasrat yang dipenuhi, melainkan kesungguhan menjalani proses. Baik kolektivitas maupun individualitas, bukan tujuan, melainkan akibat. Tiada ruang alasan untuk tidak bersungguh-sungguh dalam menempuh pilihan hidup. Meski tervonis tak wajar.

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait