ORANG TUA berharap anaknya tumbuh kembang dengan berbagai sifat dan sikap yang baik. Mereka ingin anaknya terbiasa bersikap jujur dan tidak mau berbohong. Bisa ditambahkan hal positif lain seperti: tidak curang, tidak mencuri, suka menolong, mau berbagi, menghormati orang lain, dan menepati janji.
Kebanyakan dari hal itu bukan sesuatu yang bisa dimiliki secara instan atau seketika. Anak perlu waktu untuk belajar, berlatih, dan bahkan diuji. Pengajaran paling awal mesti dilakukan di rumah, sejak anak masih kecil. Dan yang penting, orang tua menyadari bahwa belajar yang efektif tidak cukup dengan kata atau nasihat, melainkan dengan contoh.
Kisah Adli soal bersikap jujur
Ketika Adli yang masih berusia 6 tahun lebih masuk SD, ada kisah terkait sikap jujur. Ada buku kegiatan yang harus diisi setiap hari oleh anak dan ditandatangani orang tua. Kolomnya berisi pelaksanaan sholat 5 waktu. Jika dia melaksanakan sholat diberi tanda (V), sebaliknya jika tidak diberi tanda (–).
Adli jarang tidur siang, sehingga malamnya tidur sebelum jam delapan. Meski sudah diingatkan, sering lupa sholat Isya. Pada hari pertama diwajibkan mengisi buku kegiatan yang ditandainya tidak sholat Isya (–). Berlanjut hingga hari kedua dan ketiga. Pada hari keempat dicatatnya sebagai sholat (V), padahal tidak.
Saya pun bertanya, “Kok diberi tanda (V), padahal tidak sholat?” Dia menangis sambil mengatakan akan dihukum jika tercatat tidak sholat. Sambil menenangkannya, saya bertanya, “Dihukum seperti apa?” Dia pun bercerita bahwa pada hari pertama banyak yang tidak sholat, dihukum mengangkat kaki sebelah kiri selama beberapa waktu pada pelajaran bu guru itu.
Dia melanjutkan cerita bahwa pada hari pertama itu banyak yang dihukum. Pada hari kedua turun drastis menjadi sekitar 5 orang. Pada hari ketiga hanya dia sendiri yang menjalani hukuman.
Saya langsung memahami bahwa dia merasa malu dihukum sendirian dengan cara menyolok di depan kelas. Saya katakan padanya, “Meski dihukum, Adli tidak boleh begitu. Harus tetap ditulis tidak sholat. Jika ditulis sholat artinya berbohong.” Tentu saja hal itu saya sampaikan dengan nada lembut tanpa ada nada marah.
Dia masih tampak khawatir akan hukumannya. Saya katakan, “Nanti ummi temui gurumu.” Kelihatan Adli menjadi lebih tenang. Saya tetap mengingatkan, “Tetapi jangan lupa berusaha sholat Isya yaa.” Dia mengangguk mengiyakan.
Esok harinya saya temui ibu guru itu. Saya ceritakan situasinya sembari mengusulkan agar hukuman diubah. Saya sampaikan pandangan hukuman semacam itu membuat anak cenderung berbohong. Padahal buat saya, pelajaran pertama bagi anak-anak adalah tidak boleh berbohong, mencuri dan curang.
Sholat lima waktu baru lebih saya dorong ketika berusia 7 tahun. Bahkan, belum ditegur keras sebelum berusia 10 tahun. Sholat pun lebih diarahkan untuk bermakmum saja lebih dahulu.
Setelah berdiskusi dengan gurunya beberapa lama, dengan nada sedikit meninggi saya sempat mengatakan jika hukuman tidak diubah, Adli akan dipindah sekolahnya. Saya tegaskan tidak mau anak tumbuh kembang menjadi pembohong.
Beruntung lah bu guru itu mau mengerti dan bersedia mengubah hukumannya. Tidak lagi berupa hukuman fisik, melainkan menulis atau mengerjakan soal. Kontennya pun yang dijanjikan agar bisa menggugah kesadaran atau menambah kemampuan anak.
Kisah mencontohkan mau berbagi dan menolong
Mengajarkan sikap mau berbagi, suka menolong, menghargai orang lain sebenarnya cukup mudah. Terutama dengan contoh atau tindakan nyata orang tuanya. Misalnya bagaimana mereka bersikap ketika ada orang datang bertamu dengan berbagai keperluan. Sekedar berkunjung bertukar kabar, memberi undangan, meminta bantuan dan lain-lain.
Bagaimana orangtua bersikap ketika mendengar orang lain atau saudara yang kesulitan langsung terpateri di benak anak. Kedua orang tua sedapat mungkin berbincang yang menunjukan simpati atau bahkan berencana memberi bantuan.
Keterlibatan orang tua dalam beberapa kegiatan sosial yang filantropis juga merupakan contoh yang baik. Apalagi ketika ada musibah atau bencana yang cukup besar di daerah sendiri atau tempat lain. Hal itu akan langsung dirasakan anak.
Beruntung suami memang memiliki jiwa altruisme yang tinggi. Tanpa banyak berkata soal kebaikan kepada anak-anak, dia mampu menunjukkan dengan baik. Dia juga terbilang memiliki banyak kawan yang suka bertandang ke rumah, yang berbincang tentang berbagai hal yang bersifat sosial.
Seingat saya ada beberapa kegiatan sosial yang cukup besar yang diinisiasi dan dimotori oleh suami, yang tampaknya amat berkesan bagi anak-anak. Keterlibatan membantu korban terdampak gempa di Bantul pada tahun 2006 dan musibah letusan Merapi pada tahun 2010. Kebetulan, suami sangat dipercaya oleh banyak kawannya untuk menjadi penyalur dana sumbangan.
Berbagai aktivitas di rumah selama berbulan-bulan diwarnai oleh dua kegiatan itu. Mulai dari soal perencanaan hingga pelaksanaan memberi bantuan. Ketika gempa Bantul, anak-anak kadang diajak ke posko bantuan. Ketika musibah letusan Merapi, rumah kami menjadi posko bantuan.
Saya juga sejak dini menanamkan kebiasaan berzakat dan bersedekah pada anak-anak. Selain memberi contoh, anak-anak dibiasakan memotong bagian dari hadiah ketika memenangkan lomba sebagai “zakat” atau sedekah. Kebetulan, semuanya sering mengikuti lomba sain dan memperoleh hadiah uang.
Memberi Kepercayaan dan Menepati Janji
Mengajarkan untuk anak menepati janji juga memerlukan contoh dari orangtua. Oleh karenanya, saya sangat berhati-hati memberi janji pada mereka. Anak-anak biasanya sangat ingat janji orang tua. Mereka tidak mengenal kata batal untuk suatu janji, dan tidak mudah menerima begitu saja penjelasan ketika tak bisa dipenuhi.
Dalam hal janji, orang tua jangan terpaku pada posisi dirinya seperti kesibukan atau urusan lain yang lebih penting. Orang tua sebaiknya mencoba memahami pandangan anak. Seandainya ada janji yang belum bisa dipenuhi disampaikan secara baik dan dijelaskan kemungkinan kapan akan dipenuhinya.
Jika orang tua terbiasa memenuhi janjinya, maka akan lebih mudah membuat anak bersikap serupa. Bahkan ada baiknya orang tua meminta anak berjanji dalam beberapa hal sebagai proses tumbuh kembangnya. Secara bersamaan melatih mereka untuk berupaya keras memenuhi janjinya.
Pengembangan sikap lain yang harus dilakukan orangtua adalah memberi kepercayaan kepada anak. Aya anak ketiga kami sering ditanya teman-teman sekolahnya ketika SMP dan SMA karena nyaris tidak pernah ditelpon ketika sedang berkegiatan tambahan.
Terutama tentang yang banyak temannya ditanya oleh ibunya, seperti: “Pulang jam berapa? Kok belum pulang? Sedang apa di sekolah? Sesudah itu segera pulang!” Aya bercerita sebagian dari mereka suka beralasan sedang belajar bersama untuk menjelaskan keterlambatan pulang.
“Sepertinya orangtua mereka kurang percaya,” kata Aya. “Memang sih, belajarnya sebentar, sekitar satu jam lalu mereka pergi main atau berjalan-jalan. Teman-temanku heran, kok ummi tidak pernah bertanya-tanya seperti itu” lanjutnya.
“Anak-anak ummi sudah bisa diberi kepercayaan untuk berkegiatan ekstrakurikuler di sekolah,” kata saya. Saya menegaskan, “Ummi yakin kalian bisa menjaga dan tidak akan merusak kepercayaan itu.” [rif]

