Pasar: Pertautan Titik Beda dan Titik Temu

  • Whatsapp
Pasar Apung Martapura

PASAR, sebagaimana makna lain dari kata pekan, sederhananya ialah pertemuan penjual dengan pembeli. Penjual menyajikan barang-barang kebutuhan, kemudian ditawarkan kepada pembeli. Barang-barang yang hadir di pasar, langsung jadi komoditi, ada untuk dipertukarkan. Pembeli, yang sebab terdesak oleh kebutuhan akan barang, barter kepada penjual dengan uang.

Di sini jelas, pasar jadi wahana orang-orang bertemu, dengan fungsi yang berbeda, sebagai penjual, sebagai pembeli. Pasar, juga merupakan perkumpulan barang untuk dipertukarkan. Pasar pula, kita jadi tergila-gila: mabuk duit. Tanpa uang, proses barter, tak terjadi. Tanpa duit, onggokan benda dan barang-barang, serasa tak bermakna, tiada bernilai.

Bacaan Lainnya

Wahana bertemu orang-orang, mengandaikan kebersamaan. Dan memang itulah yang terjadi. Pasar merupakan adegan drama kebersamaan. Pasar menuturkan bahwa kesendirian itu mustahil, kebersamaan adalah niscaya. Meskipun kebersamaan semu. Kenapa semu? Semu itu bukan yang sebenarnya, meski tampak asli. Yang terjadi di pasar adalah keadaan yang mendekati kebersamaan. Menilik, kebersamaan merupakan tindakan bertujuan yang sepaham, yang pelakunya banyak.

Sementara kebersamaan di pasar adalah kebersamaan yang egois, individualis, kesunyian, dan kesendirian. Fisik bertemu, saling cakap dan tatap muka, tetapi saling bawa kepentingannya sendiri. Sesama penjual, memang duduk berdampingan, bahkan ada yang saling berhadapan, tetapi di kedalaman relung dirinya saling bersaing. Saling tak rela, sekira ada yang meraih keberuntungan berlebih. Saling jegal, saling sikut, tipu muslihat, seolah hukum wajib di pasar. Penghuni pasar sadar, tahu sama tahu bahwa satu sama lain di antara mereka hanya sedang memainkan peran. Bermain drama. Sehingga, mereka melakukan bukan yang sebenarnya.

Demikian pula pembeli. Dari rumah, sudah membawa misi pribadi untuk dipertaruhkan di pasar. Ia akan mempertaruhkan segala cara teknik negosiasi untuk mendapatkan keinginan dan kebutuhan. Siapa yang lihai dan kuat menawar, itu pemenangnya. Yang pasrah, ikhlas, sudah pasti kalah persaingan. Dus dengan demikian, hukum pasar, tak lebih dari hukum rimba. Yang besar, yang kuat, yang licik, yang lihai, itulah pemenang.

Aturan yang berlaku, kerelaan sama artinya kekalahan. Saya bayangkan sosialisme, pernah mengandaikan sama rata sama rasa, tak berlaku di pasar. Pasar merupakan medan persaingan, bukan jamuan saling meneguh, bukan untuk saling menguatkan.

Dengan demikian, pasar adalah presentasi paham kapitalisme. Persaingan modal benda-benda, saling unjuk diri menawarkan materi. Wujud nyata paham individualisme. Doktrin yang amat menekankan perorangan atau pribadi.

Setiap orang itu unik, tak ada duanya, dan berharga. Setiap orang merupakan pribadi yang otonom, berdiri sendiri. Setiap orang berhak jadi diri sendiri. Untuk itu setiap individu berhak mempergunakan kebebasan dan inisiatifnya, berhak mencapai kepenuhan diri.  Pertaruhan keinginan ambisi masing-masing, dan itu sebuah “kebenaran.”

Pasar adalah liberalisme. Artinya ‘bebas’, ‘merdeka’, ‘tak terikat’, dan ‘tak tergantung’. Paham yang menjunjung tinggi martabat pribadi dan kemerdekaan. Mengakui kebaikan dan kemampuan manusia untuk mengembangkan segenap potensi dan hidup. Paham yang justru mengharamkan segala usaha larangan, kekangan, demi kemakmuran orang-perorangan. Kebebasan mengungkapkan keunikan diri tanpa sungkan dan steril dari perasaan akan dipersalahkan. Dan pasar merupakan lahan potensial untuk mengembangkan “hasrat” dan “itikad baik” tersebut.

Demikian. Betapa keyakinan bahwa manusia itu pribadi unik, pribadi yang memiliki kekhasan, berasa meruyak dan memecah keharmonisan. Betapa keyakinan bahwa pribadi manusia itu pada dasarnya baik, condong pada kebaikan, mencari, menghayati, serasa mustahil di era paling kini. Pengagungan atas keunikan, penghargaan yang berporos pada pribadi perorangan, kini jadi pembenar norma “semau gue”. Yang baik adalah baik sesuai selera pribadi.

Yang jahat adalah jahat menurut cita rasa pribadi. Jadi sangat subjektif dan relatif, yang kadang parameternya sebatas naluri dan indriawi. Naluri, perbuatan berdasar insting, semata tanpa penalaran. Orang bertindak berdasar dorongan sesaat minus pertimbangan. Etika indriawi, membuat si pelaku bertindak berdasar dorongan nafsu.

Pandangan yang terlampau optimis tentang kebaikan manusia dan kemampuannya berbuat baik, seakan mengecilkan peran penyuluhan, peraturan dan hukum. Peraturan dan hukum, tidak dibutuhkan lagi, lantaran manusia sudah pasti baik dan sanggup mengerjakannya. Liberalisme, seolah lupa, bahwa daya tarik pada kebajikan, ternyata juga mampu mendorong orang berbuat sesuatu untuk mengejarnya, yang justru menihilkan norma umum. Liberalisme mendorong sikap dan pendirian subjektif, bahwa yang baik hanyalah yang dilihat, yang mampu dikerjakan, dan menafikan aturan nilai yang lebih tinggi.

Namun demikian, sisi yang beda, dan ini yang pasti, bahwa pasar adalah titik temu. Di sana memang terjadi persemaian paham individualis dan liberalis, yang tak lain adalah pengakuan titik beda. Bahwa sebagai pribadi itu tidak akan ada duplikatnya. Tidak mungkin hadir pengganti lain yang bisa persis seperti dia. Setiap diri adalah unik. Tetapi pasar juga merupakan titik temu dua atau lebih individu yang berbeda kepentingan, saling mengendurkan kepentingan atau ego, demi kesepakatan. Tawar-menawar barang dan jasa, saling tukar uang dan benda, adalah ikhtiar untuk mencapai nilai bersama yang saling untung.

Syahdan, pengakuan atas keunikan dan kebaikan per individu, tidak lantas mengarah pada etika “semaunya”, karena dorongan untuk berbuat baik tetap dominan melekat pada setiap pribadi. Pengakuan pada “titik beda” tidak berarti lantas meninggalkan “titik temu”. Sehingga pasar menjadi simbol ruang  yangmenautkan dua titik tersebut. Bahwa kebersamaan itu pun nyata, bukan ilusi. Pasar menjadi ruang bahwa keunikan sekaligus keistimewaan manusia terakui.

Pada akhirnya, pasar menjadi model ruang wajar manusia. Maka, tak aneh sekira Nabi Muhammad Saw. pun dilukiskan sebagai yang biasa berjalan di pasar-pasar. Tak lain tidak bukan untuk menegaskan bahwa sang nabi itu juga manusia biasa seperti manusia yang lain. Muhammad Asad menjelaskan: kehadiran nabi menjadi sarana ujian bagi persepsi moral dan kecenderungan manusia yang menuntut bukti “supernatural” bahwa ia benar-benar nabi. Itu kenapa disebut dalam surah Al-Furqon ayat 7 dan 20 bahwa Nabi Muhammad Saw itu sebagaimana lumrahnya banyak orang: biasa berinteraksi di pasar.

Pasar, sebagaimana makna lain dari kata pekan, sekali lagi sebagai pertautan “titik beda” sekaligus “titik temu”.

Demikian.

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait