Scroll untuk baca artikel
Blog

Penjara Kapitalis (Refleksi Kehidupan Masa Kini)

Redaksi
×

Penjara Kapitalis (Refleksi Kehidupan Masa Kini)

Sebarkan artikel ini

IKLAN tak cuma mengenalkan sebuah produk. Fungsinya lebih dari itu. Iklan adalah sarana melukis pikiran orang, mendikte angan, ‘membimbing’ gaya hidup dll.

Melalui iklan, otak manusia di ‘cuci’ dan dibuat lumpuh daya kritisnya. Dihadapan keinginannya, manusia makin tak rasional dan makin tak fungsional kehidupannya. Ia, dari waktu ke waktu menghabiskan energi untuk mengejar impian demi impian yang seringkali bukan sesuatu yang dibutuhkan.

Cecar iklan bukan semata cerita produk. Ada bungkus gemerlap tentang kehebatan, kesuksesan, kebanggaan dibalik sebuah produk. Membeli sepeda, mobil, rumah, gadget dll tak lagi soal fungsi. Ada status dan ‘kelas’. Ada gengsi yang melekat dibalik merk dagang.

Orang akan malu atau kehilangan percaya diri menggenggam suatu barang, yang sudah pudar daya ‘status sosialnya’. Alasanya, muncul produk baru, muncul ‘status sosial’ baru. Padahal barang lama masih berfungsi dengan baik.

Begitalah cara kerja iklan. Seperti yang pernah kita dengar dalam tagline iklan, ‘Kutahu yang ku mau’. Kalimatnya sederhana, padat dan mudah diingat.

Tagline itu sesungguhnya menjadi himne hampir semua iklan. Ia seperti ‘mantra agung’ yang menjelma menjadi sihir penuh tuah sehingga si borjuis tak segan menanam modalnya untuk mencipta produk guna mempertebal keutungan yang berlipat.

Para kapitalis itu cermat membaca ‘apa maumu’. Mereka turut melukisi dan mendikte ‘apa maumu’ sesukanya. Maumu itu terus dicecar sepanjang waktu, dan dibenamkan hingga menyatu dalam hati dan pikiran.

Selanjutnya perilaku manusia berlarian dengan sendirinya mengejar ‘maunya’ dengan penuh harga diri dan meninggalkan rasionalitas dan akal sehatnya rapat rapat dalam almari besi.

Celakanya, jika ‘maumu’ telah sampai daya batas dan usang, maka ‘maumu’ yang baru telah disiapkan berikut produk barunya. Dan begitu seterusnya kehidupan kini. Manusia berada dalam gelombang lautan keinginan tak bertepi. Sehingga lapak para kapitalis selalu ramai dan raya.

‘Kutahu yang ku mau’ akhirnya bukan lagi kalimat sederhana. Secara esensi kalimat itu adalah nafas dari kapitalisme. Sepanjang maunya publik bisa dibaca atau diatur atur sedemikian rupa, disitu mesin kapitalisme bekerja.

Orang tak lagi hanya membeli produk barang, tapi membeli status, atribut, gaya hidup, bahkan eksistensi. Manusia seperti berada dalam penjaran dan tawanan para kapitalis.