Scroll untuk baca artikel
Fokus

Persoalan Sampah Rumah Tangga di Masa Pandemi

Redaksi
×

Persoalan Sampah Rumah Tangga di Masa Pandemi

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO Sampah rumah tangga menjadi masalah yang serius di Indonesia. Setidaknya setiap satu jam, Indonesia memproduksi 7.300 ton sampah atau 175 ribu ton per hari.

Jumlah tersebut dapat menimbun Stadion Gelora Bung Karno. Bahkan jika diakumulasikan dalam jangka waktu 10 tahun jumlahnya mencapai 640 juta ton atau 64 juta ton per tahun.

Sampah sisa makanan dan tumbuhan seperti masakan dan sayuran mendominasi yakni sebesar 60 persen. Sementara sampah plastik di Indonesia mencapai 14 persen, sampah kertas sembilan persen dan 17 persen sisanya merupakan sampah lain seperti karet dan logam.

Sayangnya, jumlah rumah tangga yang memilah sampah di Indonesia baru mencapai angka 49,2 persen. Sedangkan 50,8 persen rumah tangga tidak memilah sampah, 79 persen di antaranya beralasan tidak ingin repot.

Persoalan sampah bukan masalah baru di Indonesia. Tetapi pandemi telah menyebabkan peningkatan jumlah sampah rumah tangga di tanah air. Sudah saatnya masyarakat membiasakan diri untuk mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.

Seperti yang dilakukan Ketua Gerakan Turun Tangan M. Chozin Amirullah. Ia melakukan pemilahan sampah rumah tangga sendiri. Ia juga mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dan organik cair.

“Minyak sisa atau yang biasa disebut jelantah, kita simpan. Tidak langsung dibuang. Dimasukkan ke botol dulu, nanti dikasih ke pengepul. Demikian juga pembuangan dari tempat cucian piring, tidak langsung disalurkan ke pipa pembuangan. Tetapi dilewatkan ke grease trap dulu, tujuannya supaya lema-lema tersaring tidak ikut air ke saluran pembuangan dapur,” paparnya.

Chozin menyampaikan jika sisa makanan seperti bekas nasi, bekas kulit udang, dan lainnya yang tidak berminyak, ia jadikan makanan untuk ikan.

“Tumbuhan bekas sayur, seperti kangkung, pakchoy, dan lain-lain aku cacah untuk dikasihkan ke ikan,” katanya.

Pria asal Pekalongan ini mengatakan jika kegiatan memilah dan mengolah sampah telah menjadi aktivitas harian bersama istri dan anak-anaknya.

Pandemi, Peningkatan Sampah Rumah Tangga

Mengutip dari Mongabay.co.id, pengurangan aktivitas di luar rumah mendorong produksi sampah di rumah. Dihitung dari jumlah tambahan kemasan dari makanan jadi atau camilan yang dibeli online dalam seminggu. Misalnya, saat memesan paket lauk pauk pada hari kedua puasa, sedikitnya ada lima plastik pembungkus tiap jenis lauk dan satu kresek tambahan.

Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sinta Saptarina menyampaikan jika sampah di masa pandemi di rumah tangga mengalami peningkatan sebesar 36 persen. Penyebabnya ada penambahan jenis sampah seperti kemasan belanja online, masker, APD (Alat Pelindung Diri), dan sebagainya.

“Tetapi ada penurunan terutama perkantoran, mal dan sejenisnya,” ujarnya pada Seminar Nasional “Peduli Limbah Medis” dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional yang disiarkan secara daring, Senin (15/02/2021).

Sehingga KLHK mendukung Kementerian Kesehatan Kemenkes mendorong pengelolaan limbah medis Covid-19 secara benar dan efektif. Lantaran sampah, termasuk di antaranya limbah medis, menjadi salah satu persoalan yang ada saat pandemi Covid-19. []


Penulis: Anatasia Wahyudi