Scroll untuk baca artikel
Fokus

Sampah dan Ancamannya Bagi Kehidupan Manusia

Redaksi
×

Sampah dan Ancamannya Bagi Kehidupan Manusia

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Sampah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai dan sebagainya; kotoran seperti daun, kertas.

Sementara menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang dan berasal dari kegiatan manusia, serta tidak terjadi dengan sendirinya.

Tapi makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan pun menghasilkan sampah setiap harinya. Itu artinya sampah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan ini.

Memang sesuatu yang tidak lagi diperlukan dan bermanfaat harus dibuang. Seperti halnya ampas dalam perut yang secara alami keluar dari tubuh manusia dalam bentuk feses. Jika tidak dikeluarkan justru berbahaya.

Lantas mengapa sampah kini menjadi ancaman bagi keberlangsungan makhluk hidup?

Sejatinya, Tuhan menciptakan sampah untuk memberi manfaat bagi kehidupan. Daun jatuh ke tanah akan membusuk dan menyuburkan tanaman. Menurut penelitian, feses dan urin pun mengandung zat – zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan.

Seiring berkembangnya zaman, manusia menciptakan hal – hal yang dibutuhkan untuk dirinya sendiri dan komunitasnya. Mereka kerap menggunakan zat – zat buatan atau kimia yang sulit diurai dan berbahaya.

Plastik, besi, kaca, kaleng, dan kertas misalnya. Jenis sampah tersebut tak mudah membusuk. Bahkan kerap menumpuk jika dibiarkan terus menerus. Alam tak mampu mereduksi sehingga lingkungan menjadi tercemar dan membahayakan seluruh makhluk hidup.

Tentu kita masih ingat dengan berita ini. Seekor paus sperma ditemukan mati di Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada November 2018. Perutnya berisi hampir enam kilogram sampah plastik dan sandal jepit. Barang – barang tersebut tidak dapat dicerna paus sehingga tetap utuh meski ia sudah tak bernyawa.

Insiden tersebut menjadi bukti, jika Indonesia memang negara dengan penyumpang sampah laut terbesar kedua di dunia.

Bayangkan jika jutaan hewan laut juga bernasib sama seperti paus sperma. Mereka memakan sampah, lalu kita konsumsi. Apa yang akan terjadi dengan tubuh kita? Dampaknya pasti sangat mengerikan.

Para ilmuwan dunia telah meneliti hewan – hewan laut. Hasilnya ditemukan potongan – potongan kecil plastik atau mikroplastik dalam tubuh mereka. Mikroplastik yang tertelan bisa merusak organ tubuh, sebab mengandung zat yang berbahaya. Mikroplastik juga dapat menggangu fungsi kekebalan dan pertumbuhan tubuh, serta reproduksi.

Maka tak heran jika kini banyak manusia yang menderita penyakit tidak menular. Kanker contohnya. Salah satu penyebab penyakit ini adalah terpaparnya zat karsinogenik.

Plastik mengandung polystyrene yang terbukti mengandung karsinogen dan memicu kanker.

Menggerus Kualitas Tanah dan Air

Sampah mencemari lingkungan baik tanah, air dan udara. Di tanah, sampah, khususnya plastik dapat menghalangi peresapan air dan sinar matahari. Akibatnya kesuburan tanah berkurang dan menyebabkan banjir.

Daun, rumput, kayu dan sisa makanan organik akan mengalami proses biodegradasi ketika tertimbun dalam tanah. Bahan-bahan tersebut akan diubah oleh bakteri menjadi senyawa yang berguna. Tapi tidak dengan sampah anorganik.

Pada sampah plastik mengandung polyethylene tidak dapat mengalami biodegradasi. Tapi plastik bisa terjadi fotodegradasi yakni menjadi rapuh dan terpecah – pecah bila terkena paparan ultraviolet dari sinar matahari. Sayangnya prosesnya sangat lama sekali. Butuh waktu bertahun – tahun untuk penguraian. Bisa 500 – 1.000 tahun lamanya.

Karena sulit terurai, sampah akan menjadi timbunan sehingga lahan media tanam semakin sulit ditemukan. Apalagi sampah anorganik mengandung senyawa kimia yang bisa mengubah unsur tanah itu sendiri.

Rosliana Eso, peneliti dari Universitas Halu Oleo menemukan kandungan logam berat pada tanah di Wua – Wua, Kota Kendari. Kandungan logam berat yang ditemukan adalah Besi, Mangan, Seng dan Chromium. Masing – masing logam berat persentasenya melebihi ambang batas, sehingga kualitas tanah di kota tersebut menjadi buruk.

Logam berat dan senyawa kimia lainnya juga meresap ke dalam tanah dan merusak kualitas air. Berdasarkan penelitian para akademisi di Indonesia, kualitas air di sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPS) lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang jauh dari TPA.

Jika kondisi ini terus menerus terjadi, maka sudah dipastikan kualitas hidup manusia akan semakin menurun. []


Penulis: Yusnaeni