Khazanah

Shingata Corona Virus, Inspirasi Energi Pandemi di Jepang

Avatar
×

Shingata Corona Virus, Inspirasi Energi Pandemi di Jepang

Sebarkan artikel ini
Boneka Geisha
Boneka geisha kimono jepang gadis/Foto: Rafael Randy

Barisan.co – Ada sebuah tulisan yang dikirim dari Mas Anung di Jepang. Bercerita tentang bagaimana warga Jepang yang tinggal di sekitar Hotel Katsuura dan Hotel Mikazuki, sekitar pantai Chiba memberikan dukungan kepada para pasien covid-19 dari kapal pesiar Diamond Princess, dimana ada kru dari Indonesia juga.

Pandemi ini di Jepang dikenal dengan sebutan Shingata Corona Virus.

Suatu hari, beberapa laki-laki sibuk di pasir pantai Chiba. Tangan dan kakinya bergerak-gerak membuat goresan di pasir pantai.

“Makeruna!” sebuah tulisan di pasir pantai sekitar Chiba berukuruan besar ditulis warga.

Di pantai inilah berdiri Hotel Katsuura dan Hotel Mikazuki. Inilah dua hotel yang disulap menjadi semacam rumah sakit. Difungsikan untuk karantina.

Tulisan tak berumur panjang. Ombak menyapu tulisan itu, dan seperti terhapus. Menyisakan bekas tulisan yang berarti ‘jangan kalah’ itu masih ada. Terlihat samar.

Si penulis tak putus asa, kembali ia menggores untuk mempertegas bekas tulisan itu agar lebih dalam dan tak langsung hilang disapu ombak.

“Makeruna!”

Mungkinkah pesan dukungan itu sampai ke para pasien? Bukankah para pasien itu berjuang dibalik dinding kamar. Barangkali dukungan itu adalah pekerjaan sia-sia. Hanya bisa dilihat dan dinikmati mereka yang sehat dan tak menjalani karantina.

Tidak. Itu thesis yang keliru. Para pasien ternyata tahu kalau mereka mendapat suntikan energi dari masyarakat. Maka, mereka merespon dengan sangat mengharukan. Respon sederhana berupa ucapan terima kasih yang mereka tunjukan dengan tulisan dari balik jendela kaca rumah sakit. Hingga balik kaca rumah sakit.

“Arigatou!” tiba-tiba muncul pesan ditulis di kertas.

Muncul dari balik jendela kaca. Terlihat pula sosok yang membungkuk memberi hormat. Semua tertangkap mata dilakukan dengan tulus. Tak ada basa-basi karena mereka tak saling kenal. Bahkan tak tahu siapa pasien-pasien itu.

Kisah seperti ini bertebaran di buku “19 stories from 19 country about covid 19” yang memberi saya kesempatan bergaul dengan masyarakat dunia. Masyarakat yang entah memegang paspor negara mana dan tinggal dimana. (Edhie Prayitno Ige/Judul asli: Inspirasi Berbagi Energi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *