Titik Nadir Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Sudah Mapan

  • Whatsapp
Ilustrasi: shutterstock
Oleh: Diautoriq Husain*

Barisan.co – Kehadiran pakar di tengah-tengah masyarakat, kini tidak lagi menjadi rujukan utama dalam menjawab setiap pertanyaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Malahan, tak sedikit yang lebih mempercayai teori konspirasi, yang dibikin oleh orang awam “sok tahu” atau bahkan oleh pesohor yang menyesatkan.

Bacaan Lainnya

Itulah realitas kondisi Amerika Serikat (AS) pada era rimba informasi ini yang berhasil dipotret dengan baik oleh Tom Nichols, profesor U.S. Naval War College dan Harvard Extension School. Bahkan, “matinya kepakaran” yang dialihbahasakan dari judul bukunya “The Death of Expertise (2017)” tidaklah berlebihan untuk menggambarkan bagaimana pendapat yang salah bisa dianggap benar, di mana hal itu mencolok mata sewaktu pilpres AS 2016 lalu.

“Orang Amerika telah mencapai titik di mana ketidaktahuan, terutama tentang apa pun yang berkaitan dengan kebijakan publik, adalah kebajikan yang sebenarnya,” tulis Nichols dalam bukunya itu.

Alih-alih menyelamatkan, malah tidak sedikit dari pihak yang mestinya meluruskan, semisal kalangan pakar, perguruan tinggi, atau mungkin jurnalis, justru turut andil bagian menghabisi kepakaran. Untuk itulah, “Matinya Kepakaran” sejatinya membawa pesan supaya setiap orang tidak asal melumat informasi melainkan dari sumber yang tepat.

Kemudian, tatkala membaca buku ini, saya memang sudah kadung kepincut dengan judul bukunya, yang bagi saya, Nichols seakan sedang menantang pembacanya dengan kapasitas kepakarannya. Namun, yang saya temukan malah sebaliknya, buku ini justru tidak lebih dari keresahannya akan masa depan era post-fact.

Terlebih lagi, diakui dengan jujur oleh Nichols bahwa ternyata orang AS rata-rata pengetahuan dasarnya sangat rendah, sehingga tak jarang mereka malah memercayai informasi yang salah. Bahkan, mereka tidak segan menolaknya jika berita itu mengancam keyakinan dasarnya.

Uniknya, hal itu sebetulnya tidak hanya terjadi di Amerika Serikat saja, tetapi juga banyak dialami oleh banyak negara di dunia.

“Ini sangat selaras dengan apa yang saya lihat terjadi di seluruh dunia, hampir setiap hari, dari keadaan politik energi yang mengerikan di Australia, hingga kondisi yang terus terang aneh dari debat publik tentang apa saja di AS dan Inggris,” terang Rod Lamberts, Wakil Direktur Australian National Centre for Public Awareness of Science, Australian National University, dikutip dari The Conversation.

Di samping itu, Nichols pun menyadari bahwa fenomena tersebut tidaklah baru. Hanya saja, seiring berjalannya waktu malah makin mengemuka serta menyebar luas karena kemutakhiran teknologi.

Internet memberikan akses luas ke informasi dibanding sebelumnya, yang menjerumuskan kepada ilusi pengetahuan, yang berkutat hanya pada data dan berita yang diinginkan.

Apalagi, tidak dapat dinafikan bahwa fakta, rumor, dan kebohongan, bahkan juga analisis serius, spekulasi gila-gilaan, hingga propaganda juga mudah ditemukan dalam jelajah online itu. Karenanya, seseorang sangat riskan mengalami bias konfirmasi.

Seperti kata Nichols, “untuk mencari informasi yang hanya mengonfirmasi apa yang kami yakini, menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan pilihan kami, dan menolak data yang menantang apa yang kami terima sebagai kebenaran.”

Itulah sebabnya, ia menyayangkan efek dari fenomena itu yang mendestruksi dialog publik yang konstruktif dan positif. Untuk itu, fallacy dan ad hominem sering didapati dalam perdebatan.

Selain itu, Nichols pun menyoroti perubahan dalam pengaruh mediasi jurnalisme terhadap hubungan antara pakar dan warga negara. Di mana keberadaan Google yang perannya lebih dominan dalam memperkuat gabungan informasi dan pengetahuan serta pengalaman.

Bahkan, kontribusi pendidikan tinggi pada buruknya hubungan antara para ahli dan warga negara juga tidak luput dari perhatiannya. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, dia menyebutkan keterlibatan akademisi dalam memperkeruh hubungan tersebut.

Dalam uraiannya, Nichols pun mengkritisi bagaimana perguruan tinggi memperlakukan mahasiswa sebagai klien, dan akibatnya terlalu bergantung pada kemanjuran dan relevansi penilaian mahasiswa kepada profesornya.

“Mengevaluasi guru menciptakan kebiasaan pikiran di mana orang awam menjadi terbiasa menilai ahli, meskipun berada dalam posisi yang jelas, memiliki pengetahuan yang lebih rendah tentang materi pelajaran,” keluhnya.

Karenanya, serangan terhadap para ahli dengan mencapnya sebagai “elitis” dalam wacana publik AS, jika ditarik lebih jauh tidak lepas dari keterlibatan akademisi. Naasnya, Nichols melihat serangan-serangan tersebut tidak berdasar pada ketidaktahuan, melainkan berdasar pada kesombongan dan kemarahan semata akibat budaya narsistik di sana yang semakin menjadi-jadi, yang berujung pada pengkondisian ketidaksetaraan dalam bentuk apa pun.

Padahal, demokrasi menurut Nichols mestinya memberikan “kondisi kesetaraan politik”: satu orang, satu suara, semua orang setara di mata hukum. Itulah mengapa, ia mengkhawatirkan bahaya dari matinya kepakaran ini.

Utamanya, godaan dalam masyarakat demokratis yang terperangkap dalam “desakan kebencian pada kesetaraan”. Sebab, hal itu bisa berubah menjadi “ketidaktahuan yang menindas” jika dibiarkan. Dan, lagi-lagi, ruang perdebatan menjadi tidak menarik untuk diisi.

Diautoriq Husain, Penulis, tinggal di Jakarta

Pos terkait