Scroll untuk baca artikel
Pojok Bahasa & Filsafat

Umpatan Bajingan

Redaksi
×

Umpatan Bajingan

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Umpatan bajingan merupakan umpatan atau pisuhan khas daerah di pulau Jawa. Memang di Indonesia ada beragam kata umpatan selain kata bajingan sebut saja thelo, asu, kakekane maupun diancuk atau diamput.

Pisuhan atau umpatan terlontar ketika seseorang memiliki kekesalan terhadap sesuatu yang tidak memuaskan. Ataupun ketika rasa jengkel muncul, sehingga umpatan tersebut dilontarkan.

Di kampung saya, umpatan selain kata “asu” yang paling menonjol yakni umpatan bajingan. Kata bajingan berasal dari “Bajing” ialah seekor hewan yakni tupai. Tupai ini menjadi umpatan atau pisuhan karena ia suka memakan buah-buahan dan pepohonan seperti kelapa.

Sebagai hewan pengerat, tupai memang suka makan buah-buahan, seperti yang terjadi di pohon mangga yang saya miliki. Tupai suka memakan buah mangga, bahkan tupai juga memakan kayu empuk. Ini terjadi ketika jendela jendela rumah belum ada jendelanya cuman saya tempel kayu bekas palet digigiti hingga keropos.

Namun bicara umpatan bajingan, ini sangat mengasyikkan. Meski Tupai suka memakan buah mangga, ia masih suka berbagi dengan pemiliknya. Ketika ia memakan buah tersebut, pasti tidak akan habis semua dan menyisakan sebagian.

Berbeda dengan BAJINGAN, umpatan bajingan ini karakternya tidak suka berbagi, ia akan menghabiskan seluruh buahnya tanpa tersisa. Namun asal mula bajingan tidak identik dengan umpatan atau biasanya sebagai pelaku tindak kriminal. Bajingan sesungguhnya  julukan bagi pengemudi pedati yang gerobaknya ditarik oleh sapi.

Namun kata bajingan semakin berkembang, tidak hanya sebagai umpatan tapi juga pola pengenalan. Bagi kalangan milenial kata bajingan memiliki arti bakda ngaji mangan atau bar ngaji mangan.

Sementara itu jika seseorang yang benar-benar mengalami kebencian dan kejengkelan yang berlebih, terkadang mengucapkan  BAJINGAN TENGIK. Jika menilik contoh di atas tentang pohon mangga, karakter bajingan tengik ini suka memakan buahnya dan pohonnya sekalian. Jadi bajingan tengik membabat habis seluruh pohon mangga dan bahkan sampai ke akar-akarnya.

Lain lagi dengan BAJING LONCAT  yang biasa diartikan dengan tindak kriminal yang suka mengambil barang di belakang bak truk. Namun karakter bajing loncat saat ini yakni selain suka buah mangga dan menghabisi seluruh pohon sampai ke akarnya, ternyata ia suka menghabisi yang lainnya. Seperti misalnya sudah mendapatkan proyek infrastruktur, ternyata juga ngembat bantuan sosial (bansos).

Ah…ini sekadar meruwat hidup saja, supaya tidak serius menghadapi kehidupan. Karena sesungguhnya kehidupan ini hanya sendau-gurau belaka atau bermain sandiwara. Maka ketika mengumpat atau misuh hendaknya memakai ilmu tajwid, sehingga umpatan yang keluar memiliki suara khas atau sesuai makhorijul huruf.

Salam…
Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan.