Utsman Gagal Bernegara, Fokus Mengurus Mushaf

  • Whatsapp
Al-Quran
Mushaf Al-Quran

Barisan.co – Secara politik, kepemimpinan Utsman bin Affan tak segemilang kepemimpinan Abu Bakar, lebih-lebih dengan kepemimpinan Umar bin Khattab. Umar sukses meluaskan teritorial Islam hingga jauh menyeberang tanah Arab. Sementara Utsman, malah terkesan, tak mengurusi pemerintahan. Utsman membiarkan korupsi, dan menghidupkan kolusi.

Singkat kisah, Utsman dikenal sebagai pemimpin yang gagal. Kemudian datang berombong, kelompok-kelompok umat  dari luar kota Madinah, mengepung rumah beliau. Dan, lantas masuklah dua orang menyerang Utsman dan membunuh, tatkala beliau tengah membaca al-Quran di sisi istri beliau, Nailah binti al-Furafishah.

Bacaan Lainnya

Jelas, saya tertegun oleh penuturan Gus Baha soal kepemimpinan Utsman bin Affan tersebut. “Sayidina Utsman memang akhirnya tidak fokus mengurus negara, tidak becus, tapi beliau justru mendedikasikan diri fokus mengurus mushaf.” tutur Gus Baha.

Gus Baha mengisahkan riwayat, datanglah Hudzayfah ibn al Yamani, pemimpin ekspedisi Armenia dan Azerbaijan, menghadap Utsman. Ia cemas oleh pertengkaran penduduk Syria dan Irak tentang bacaan al-Quran. Ia sering melihat orang-orang di musala, di masjid, saling bertengkar gara-gara beda bacaan. “Wahai Amir al-Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka bertikai tentang kitab, sebagaimana yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani pada masa lalu!”

Syahdan Utsman bin Affan mengambil keputusan untuk menulis al-Quran standar. Beliau bersibuk ria di ruang khusus demi standarisasi mushaf. Beliau memanggil pakar-pakar Quraisy: Zayd bin Tsabit, Abdullah bin Zubayr, Sa’id bin ‘Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dan memerintahkan mereka untuk menyalin menjadi beberapa mushaf. Utsman berpesan, “Jika kalian berbeda ejaan, maka tulislah dalam dialek Quraisy, karena al-Quran itu diturunkan dalam bahasa mereka.”

Begitulah. Betapa Utsman hingga akhir hayat hanya fokus mengurus al-Quran. Beliau mengumpulkan dari berbagai sumber dan menyalinnya ke dalam mushaf, dan kemudian menyebarkan ke berbagai wilayah Islam di luar Madinah.

Tentang jumlah mushaf yang berhasil diselesaikan penulisannya, ada riwayat yang menyebut enam eksemplar (riwayat lain delapan). Lima dikirim ke lima kota, dan satu eksemplar disimpan oleh Utsman, yang kemudian dikenal sebagai mushaf induk. Dan, penyempurnaan proyek kodifikasi al-Quran itu sendiri, berdasar riwayat yang berkaitan dengan laporan Hudzayfah, berarti sekitar tahun 651 hingga menjelang terbunuhnya Utsman, tahun 656.

Utsman pula, dengan otoritas beliau sebagai khalifah, memerintahkan agar seluruh dokumen tertulis al-Quran yang ada itu dimusnahkan. Semua al-Quran yang tak memenuhi standar mushaf induk harus dibakar. Semenjak itu dan hingga hari ini kita mengenal dan membaca al-Quran yang mengacu pada rasm Utsmani. Umat Islam akhirnya memiliki panduan al-Quran standar yang diterbitkan oleh pemerintah Saudi, yang disetujui oleh ulama-ulama sedunia.

“Saya meniru pilihan Utsman!”tegas Gus Baha. “Memang Utsman gagal dalam bernegara, sebab beliau sibuk menata al-Quran. Saya pun mungkin gagal dalam berkiai, tapi saya sudah izin pada ibu saya dan bilang ke istri bahwa saya sampai mati akan mewakafkan diri, mendedikasikan hidup untuk al-Quran.”

“Sekira tidak ada yang menjaga mushaf rasm ustmani lewat riwayat-riwayat yang benar dan bersambung pada Rasulullah saw. nanti bisa hilang.” tandas lagi Gus Baha. “Saya punya dokumen al-Quran  dari tahun ke tahun. Di setiap almari ada mushaf al-Quran keluaran tahun kapan pun.”

“Dan, kini kita hidup di dunia virtual, yang rawan masalah. Sekali digeser antara huruf  ‘wau’ dan ‘fa’ saja, itu bedanya sangat fatal. Kalau khat Utsmani itu hilang, itu akan repot, karena al-Quran akan berubah sesuai dialek masing-masing.”

Walhasil, kita harus bisa meluangkan waktu untuk mengkaji al-Quran. Membaca dan menulis khat utsmani. Sebab orisinalitas kitab suci ini dulu telah merenggut nama dan nyawa Sayidina Utsman. Nama beliau, sekali lagi memang, tak secemerlang Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib, lantaran dianggap gagal memimpin pemerintahan yang bersih. Bahkan beliau mesti gugur di dalam rumah sendiri demi mempertahankan standardisasi teks al-Quran.

Dan saya makin terenyuh, Gus Baha menutup paparan: “Saya sudah ikhlas. Saya sudah matur ten Pengeran, saya ikhlas  jadi kiai tak terkenal, dadi kiai ra kanggo, ra populer, yang penting saya bisa turut mengurus al-Quran. Saya siap tidak kaya. Siap melarat. Mati hidup saya ini untuk mengurus al-Quran, sebagaimana Sayidina Utsman. Maka, umumnya yang ahli Quran itu lebih suka mengirim al-Fatihah kepada Sayidina Utsman, ketimbang pada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Karena beliau memang berdarah-darah betul untuk mempertahankan khat utsmani. Sekali lagi, saya minta restu pada jamaah, saya kepingin membidangi itu.”    

Demikian.

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait