Scroll untuk baca artikel
Ragam

Nasehat Imam Syafi’i Tentang Lisan: Jagalah Ia Seperti Pedang

×

Nasehat Imam Syafi’i Tentang Lisan: Jagalah Ia Seperti Pedang

Sebarkan artikel ini
Nasehat Imam Syafi’i Tentang Lisan
Ilustrasi/Barisan.co

Lisan itu ibarat pedang: tajam dan berbahaya jika tak dijaga. Imam Syafi’i mengingatkan, luka dari ucapan bisa lebih dalam daripada luka pedang. Sudahkah kita menjaga lisan hari ini?

BARISAN.CO – Dalam kehidupan sehari-hari, lisan memiliki peran yang sangat penting. Ia bisa menjadi sumber kebaikan sekaligus sumber keburukan. Pepatah Arab mengatakan, “Seseorang bisa menjadi celaka lantaran dua hal, yakni hati dan lisannya.

Hal ini senada dengan nasehat Imam Syafi’i yang berbunyi, “Lisanmu jangan pernah kau pakai untuk menyebut kekurangan orang lain karena seluruh dirimu adalah aib, sedang tiap manusia punya lisan.

Nasehat ini mengandung pesan mendalam bahwa menjaga lisan bukan hanya sekadar etika, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanda ketakwaan kepada Allah Swt.

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman dalam surah Qaaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18).

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kata yang kita ucapkan dicatat oleh malaikat. Tidak ada satu pun perkataan yang terlewat dari catatan amal.

Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya sekadar untuk menghindari konflik sosial, tetapi juga untuk menjaga pertanggungjawaban kita di hadapan Allah Swt kelak.

Bahaya Lisan Menurut Imam Syafi’i

Dalam syairnya, Imam Syafi’i dengan indah menggambarkan betapa berbahayanya lisan jika tidak dijaga dengan baik:

Jagalah lisanmu, wahai manusia
Jangan sampai ia menggigitmu, karena lisan itu ular
Banyak orang mati terbunuh oleh lisannya.
Padahal, sebelumnya ia ditakuti kawan-kawannya.

Syair ini menegaskan bahwa lisan dapat menjadi senjata yang sangat tajam. Seperti ular berbisa, ia dapat menggigit dan meracuni pemiliknya sendiri.

Betapa banyak orang yang harus menanggung akibat dari perkataan yang tak terjaga. Persahabatan bisa hancur, keluarga bisa berantakan, bahkan peperangan pun bisa terjadi hanya karena ucapan yang tidak terkendali.

Rasulullah Saw pun telah mengingatkan umatnya dalam sebuah hadis:

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah kunci keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Kata-kata yang tidak dipikirkan dengan baik dapat menyakiti hati orang lain, menimbulkan fitnah, dan bahkan menjerumuskan seseorang ke dalam dosa besar.

Imam Syafi’i juga menggambarkan bagaimana luka akibat lisan sering kali lebih menyakitkan dan sulit disembuhkan dibandingkan luka akibat pedang:

Aku katakan kepadamu:
Sesungguhnya, luka yang ditimbulkan oleh pedang itu memang sakit,
Terkadang bisa membekas, tetapi ia bisa sembuh seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Namun, tidak demikian dengan luka akibat lisan.
Ia tidak membekas di kulit, tetapi ia tidak dapat dilupakan.

Luka fisik mungkin bisa sembuh dengan perawatan medis, tetapi luka hati akibat perkataan yang menyakitkan sering kali membekas dalam ingatan seseorang seumur hidup.

Banyak orang yang mengalami trauma, kehilangan kepercayaan diri, bahkan kehilangan persahabatan karena kata-kata yang tidak dijaga.

Cara Menjaga Lisan

Mengingat begitu besarnya dampak lisan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaganya:

1. Berpikir Sebelum Berbicara

Sebelum mengucapkan sesuatu, pastikan bahwa perkataan kita tidak menyakiti orang lain. Jika ragu apakah sesuatu itu baik atau buruk, lebih baik diam.

2. Berbicara yang Baik atau Diam.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa berbicara harus membawa manfaat, bukan sekadar asal bicara.

3. Menghindari Ghibah dan Fitnah

Salah satu dosa besar yang berkaitan dengan lisan adalah ghibah (menggunjing) dan fitnah. Allah Swt menyamakan ghibah dengan memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati (QS. Al-Hujurat: 12).

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

4. Menjaga Nada Bicara

Terkadang bukan hanya kata-kata yang bisa menyakiti, tetapi juga nada bicara. Menggunakan nada yang lembut dan tidak bernada tinggi dapat menghindari kesalahpahaman.

5. Berzikir dan Memohon Ampunan Allah

Agar lisan tetap terjaga, perbanyaklah berzikir dan memohon ampun kepada Allah Swt. Zikir akan membersihkan hati dan menjauhkan kita dari kebiasaan berbicara buruk.

Nasehat Imam Syafi’i tentang lisan adalah pengingat bagi kita bahwa setiap kata yang diucapkan memiliki dampak besar. Lisan bisa menjadi jalan menuju kebaikan atau justru menghancurkan diri sendiri.

Oleh karena itu, menjaga lisan adalah kewajiban setiap muslim. Dengan berbicara yang baik, menjauhi ghibah dan fitnah, serta selalu berpikir sebelum berbicara, kita bisa selamat dari bahaya lisan.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan dan mendapatkan ridha Allah Swt. Aamiin. []