Pemimpin yang benar, fokus utamanya bukan menciptakan pengikut, apalagi buzzer, tetapi mendidik dan memberdayakan lebih banyak pemimpin baru.
Oleh: Imam Trikarsohadi
Apa boleh buat, jika mencermati hiruk pikuk silang sengketa antar elit di negeri ini, di segala level, maka bisa jadi, keadaan ini tercipta oleh sebab dusta yang bertalu-talu dalam perpolitikan, yang tidak saja acapkali melahirkan pelbagai kebijakan ngawur, tapi juga memunculkan begitu banyak pemimpin yang tidak jujur dan bahkan dengan sadar memelihara kebohongan sebagai instrumen kekuasaan.
Dalam soal memilih pemimpin, mayoritas dari kita, sejatinya, terjebak dan/ atau mendiamkan kelindan pendustaan sistemik sejak masa pencalonan sebagai pemimpin; mulai dari dusta terkait manipulasi data, money politics maupun kebohongan berikutnya.
Pada akhirnya terpilihlah para pemimpin yang terproses dengan kebohongan, lalu menciptakan siklus dusta lanjutan secara bertalu–talu.
Bahkan mereka menyempurnakannya dengan membentuk sederetan pasukan dusta (buzzer). Hal itu untuk membangun opini bahwa kebijakannya penuh kebenaran dan menyerang para pengritik yang kritis membongkar kedustaannya.
Kebenaran tidak lagi diperjuangkan melalui argumentasi rasional dan etika publik, tetapi direkayasa melalui kebisingan opini yang diciptakan secara sistematis.
Fenomena buzzer dan aneka macam relawan politik karbitan menjadi wajah paling kasat mata. Mereka disewa untuk membenarkan kebijakan yang problematik serta menjaga citra para penguasa dusta di segala level tampak benar meski pun realitas berkata sebaliknya.
Celakanya, para buzzer dan/ atau relawan karbitan ini bukanlah orang yang paham masalah publik, mereka hanya berceloteh penuh kedangkalan. Inilah era dimana pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, dan pengkhianat dianggap amanah.
Fenomena ini sesungguhnya telah lama diperingatkan oleh Rasulullah SAW ihwal orang bodoh yang ikut campur dalam urusan public ;’Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan.
Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara’. Ada yang bertanya, ‘Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas’.” (HR Ibnu Majah).
Buzzer dan relawan politik karbitan adalah representasi kekinian dari Ruwaibidhah. Mereka berbicara atas kepentingan bersama, kebenaran dan bahkan moralitas, tapi dengan pengetahuan sedengkul dan argumen yang encokan.
Sama sekali tak menguasai substansi persoalan. Yang mereka mainkan adalah teknik manipulasi emosi berupa; pendistorsian fakta, merobek konteks, menggiring kemarahan, dan menabur kecurigaan.
Dampaknya, kini kita terjebak dalam situasi yang bising oleh perang narasi yang saling memajalkan, bukan perdebatan tentang mana kebijakan yang benar atau adil.
Bahaya paling destruktif dari merajalelanya Ruwaibidhah meludahi secara seronok nilai – nilai kebenaran dan kepatutan.
Sebab, dusta yang diulang secara bertalu – talu dengan suara lantang, kepalan tangan meninju langit, jari telunjuk yang menegang serta dukungan algoritma media sosial, ia akan nampak seperti kebenaran.
Sebaliknya, suara kritis yang jujur justru dicap sebagai ancaman, pembenci, atau musuh. Inilah titik di mana krisis moral bertemu dengan krisis demokrasi.
Situasi ini sekaligus juga merupakan cermin bangkrutnya etika kepemimpinan, sebab kekuasaan yang dipertahankan dengan pasukan opini bayaran, menandakan adanya jarak antara penguasa dan kebenaran. Kekuasaan semacam ini rapuh, karena berdiri di atas ilusi, bukan kepercayaan.
Ringkasnya, ketika kompetensi dan integritas tidak lagi menjadi ukuran, maka kebodohan yang percaya diri akan tampil dominan. Orang-orang yang seharusnya belajar justru tampil menggurui, sementara mereka yang berilmu dipinggirkan karena tidak sesuai dengan selera kekuasaan.
Untuk itu, ruang publik harus direbut kembali oleh nalar, etika, dan tanggung jawab moral. Tanpa itu, kita bukan hanya sedang menyaksikan kemerosotan kualitas kepemimpinan, tetapi juga sedang berjalan menuju zaman penipuan dengan dusta yang bertalu-talu. []









