Al-Kindi: Konsep dan Pemikiran Tentang Tuhan

  • Whatsapp
Al-Kindi
Filosof Muslim Al-Kindi/Foto: Republika/Edited Barisanco

Barisan.co –  Pembahasan Tuhan dalam ilmu filsafat tidak pernah tuntas untuk dikaji. Bahkan dari berbagai disiplin ilmu lainnya. Setiap orang sifat dasarnya membutuhkan Tuhan.

Dalam buku Pengantar Filsafat, Ketika perang dunia ke-II berkecamuk ada suatu ungkapan yang populer bahwa di dalam lubang-lubang perlindungan tidak ada penganut ateisme. Ungkapan itu kiranya menyebutkan bila seseorang terjebak dalam situasi yang membahayakan jiwanya, tentu ia mengakui adanya Tuhan. Dalam keadaan semacam itu orang merasakan betapa perlunya Tuhan, dan sebagai konsekuensinya harus mengakui adanya Tuhan. (Lois O.Kattsoff, 1996: 443).

Bacaan Lainnya

Salah satu tokoh muslim atau filosof muslim yang membahas tentang filsafat ketuhanan yakni Al-Kindi. Berikut ini pemikiran Al-Kindi tentang Ketuhanan.

Al-Kindi adalah filosof pertama dalam dunia filsafat Islam. Pemikiran filosofisnya sangat menonjol terutama karena dia adalah filosof muslim yang berusaha untuk menyelaraskan agama dan filsafat.

Posisi al-Kindi menurut buku Filsafat Islam , Sejarah, Aliran dan Tokoh, meyakini bahwa agama dan filsafat atau nalar dan wahyu bisa diselaraskan kemudian terulang kembali dalam sejarah peradaban manusia beberapa abad kemudian, melalui apa yang dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas dalam tradisi Kristen beberapa abad kemudian. (Pradana Boy, 2003: 89).

Sebagaimana halnya dengan filosof-filosof Yunani dan filosof-filosof Islam  lainnya. Al-kindi, selain dari filosof, adalah juga ahli ilmu pengetahuan. Pengetahuan ia bagi ke dalam dua bahagian:

1. Pengetahuan ilahi (devine science), sebagaimana yang tercantum dalam Qur’an yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini adalah keyakinan.

2. Pengetahuan manusiawi (human Science) atau falsafat. Dasarnya adalah pemikiran (ratio-reason)

Menurut Al-Kindi, Filsafat adalah pengetahuan tentang yang benar (knowledge of truth). Terlihat persamaan filsafat dengan agama. Tujuan agama adalah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik; filsafat itu pulalah tujuannya. Agama, di samping wahyu, mempergunakan akal; dan falsafat juga mempergunakan akal. Yang benar pertama (the first truth) bagi al-Kindi adalah Tuhan

Filsafat Ketuhanan

Filsafat dengan demikian membahas Tuhan dan agama ini pulalah dasarnya. Falsafat yang paling tinggi adalah falsafat tentang Tuhan. Sebagai kata al-Kindi : Filsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama, yaitu ilmu tentang yang  benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar.

Mengenai keesaan Tuhan, masalah keesaan Tuhan ini muncul karena dalam kenyataan bahwa ciptaan Tuhan begitu banyak, dan apakah dengan banyaknya ciptaan itu tidak mengganggu keesaan?

Menjelaskan persoalan ini, al-Kindi mencoba menjawab lewat teori tentang kebenaran. Menurutnya, kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada di dalam akal dan apa yang ada di luar akal.

Selanjutnya, bahwa di dalam alam ini terdapat pada benda-benda yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera. Benda-benda itu merupakan juz’iyat (particulars) dan yang terpenting dalam filsafat bukan yang juz’iyat dan tak terhingga banyaknya itu, melainkan yang terdapat dalam Juz’iyat itu, yaitu kulliyat (universal).

Selain itu, menurutnya bahwa tiap-tiap benda mempunyai dua hakikat, yaitu hakikat yang disebut anniyah, dan hakikat yang disebut kulli yang sebenarnya mahiah, yaitu hakikat yang bersifat universal yang mengambil bentuk genus dan species. (Abuddin Nata, 1993: 18)

Al-Kindi menyifati Tuhan dengan istilah-istilahbaru. Menurutnya Tuhan adalah yang benar dan tinggi serta dapat disifati dengan sebutan-sebutan negatif, seperti Tuhan bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah dan tak berhubungan.

Tuhan juga tak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada di alam. Tuhan tak berjenis, tak terbagi dan tak berkejadian. la abadi, oleh karena itu, la Maha Esa dan selain- Nya adalah terbilang.

Dalil-dalil al-Kindi dalam membahas tentang kemaujudan Tuhan bertumpu pada keyakinan akan hubungan sebab akibat segala sesuatu yang maujud pasti ada yang mewujudkan. Rangkaian sebab ini terbatas.

Oleh karena itu, perlu ada sebab pertama atau sebab sejati, yaitu tiada lain adalah Allah sendiri yang tak berjenis. Dengan kata lain, bahwa dalam pencariannya itu, al-Kindi mengikuti jalur ahli logika.

Penciptaan Alam

Al-Kindi dalam bukunya “Rasa’il al-Kindi al-Falsafiyah” menjelaskan alam dijadikan Allah dari tidak ada kepada ada. Allah juga yang mengendalikan, mengatur, dan menjadikannya sebagai sebab bagi yang lain.

Alam diciptakan Allah dari tiada. Menyanggah teori mengenai ke-qadim-an alam seperti yang dikatakan oleh Aristoteles. Menurut al-Kindi, alam ini terdapat berbagai gerak; gerak yang menjadikan dan yang merusak. Gerak ini ada empat sebabnya: sebab material, formal, pembuat dan tujuan. Sebab tersebut pada akhirnya bertemu pada ”Sebab Pertama” yang menyebabkan segala kejadian dan kemusnahan di alam ini, yakni Allah.

Al-Kindi berpandangan, alam terdiri dua bagian yakni alam yang terletak di bawah falak bulan dan alam yang merentang tinggi sejak dari falak bulan sampai ujung alam. Alam yang pertama ini terjadi dari empat unsur tersebut, dan karenanya mengalami perubahan, pertumbuhan dan kemusnahan.

Sedangkan alam jenis kedua adalah alam yang tidak bertumbuh dan tidak musnah, karena itu tidak terjadi dari unsur-unsur tersebut, sehingga bersifat abadi.

Alasan lain, al-Kindi menyatakan bahwa alam ini tidak kekal adalah mengenai teori ketakterhinggaan secara matematik. Menurutnya, benda-benda fisik ini terjadi dari materi dan bentuk, serta bergerak dalam ruang dan waktu.

Meski benda itu adalah wujud dunia. Karena benda itu terbatas, maka ia tidak kekal, dan hanya Allah-lah yang kekal. Teori penciptan alam Al-Kindi, yaitu diciptakan dari ketiadaan, bersifat terbatas dan tidak kekal.

Tuhan bagi al-Kindi adalah pencipta dan bukan penggerak pertama seperti pendapat Aristoteles. Alam bagi al-Kindi bukan kekal di zaman lampau (qodim), tetapi mempunyai permulaan.

Pemikiran Al-Kindi lebih dekat dengan filsafat Plotinus, bahwa Yang Maha Satu (to hen) adalah sumber dari alam ini dan sumber dari segala yang  ada. Alam ini adalah emanasi atau pancaran dari Yang Maha Satu. Sayang, paham emanasi al-Kindi itu tidak begitu jelas. (Luk)

Pos terkait