Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Bad Mood? Netralkan Lewat Makanan

Redaksi
×

Bad Mood? Netralkan Lewat Makanan

Sebarkan artikel ini

Barisan.co – Sesekali kita menemu suasana yang tak sesuai dengan harapan. Jika suasana hati tak menentu, badan kadang terasa letih, sulit tidur dan sulit berkonsentrasi, mungkin bisa kita siasati dengan makan makanan tertentu.

Pada dasarnya, segala sesuatu yang kita makan, langsung mempengaruhi suasana hati. Dapat menimbulkan rasa gelisah atau tenang, bahagia atau depresi, terjaga atau mengantuk, serta menentukan besar kecilnya energi tubuh.

Tiga yang penting  

Bagaimana makanan dapat mempengaruhi suasan hati? Semuanya bermula dari aktivitas sel-sel saraf yang ada di dalam otak. Otak manusia terdiri dari seratus juta lebih sel saraf (neuron) yang saling berkomunkasi melalui massa penghatar saraf otak (neurotransmitter).

Zat inilah yang membantu menyalurkan rangsangan antara dua sel saraf atau antara saraf dan otot, serta bertugas mengatur berbagai fungsi saraf, antara lain sebagai pusat ingatan, pengontrol nafsu makan, mengatur fungsi mental, suasan hati, gerak tubuh serta siklus tidur dan bangun.  

Sejumlah nuerotransmitter terbuat dari asam amino. Dari 23 jenis asam amino yang membentuk protein, ada 8 yang termasuk esensial, karena tidak bisa disintesa oleh tubuh dan harus diperoleh dari makanan.

Jumlah neuro transmitter ini berfluktuasi sesuai dengan asupan asam amino. Jika satu saja neuro transmitter terganggu, maka fungsi saraf pun ikut terganggu, akhirnya suasana hati, selera makan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya akan terpengaruh.  

Tiga diantaranya yang penting untuk mengatur suasana hati adalah serotonin, dopamine dan norepinefrin. Serotonin diproduksi di dalam otak dari asam amino triptophan yang terdapat pada makanan yang tinggi kadar proteinnya.

Tapi ironisnya, mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi justru dapat meningkatkan ketersediaan triptophan dan serotonin dalam otak, sementara mengkonsumsi makanan tinggi protein justru akan menurunkannya.

Asupan makanan yang tinggi kadar karbohidratnya akan memicu pelepasan insulin dari pankreas. Insulin tersebut menyebabkan sebagian besar asam amino yang ada dalam darah diserap sel-sel tubuh seluruhnya, kecuali triptophan, yang tetap berada dalam aliran darah, dan mengalir langsung menuju otak.

Bila yang dikonsumsi adalah makanan tinggi protein, maka darah akan dipenuhi oleh berbagai jenis asam amino, dan triptophan harus berkompetisi dulu dengan asam amino jenis lainnya sebelum bisa sampai ke otak. Jadi, mengkonsumsi karbohidrat secara cukup, akan meningkatkan kadar triptophan di dalam otak, yang akhirnya meningkatkan produksi serotonin.

Selanjutnya, serotonin akan membantu mengatur selera makan dan pola tidur, memperbaiki suasan hati, serta meningkatkan kemampuan menahan rasa sakit. Sebaliknya kadar serotonin yang rendah menimbulkan rasa cemas, membuat orang mudah marah, muncul keinginan untuk melahap makanan manis atau mengandung tepung seperti dessert, roti atau pasta.

Bila kita terbiasa sarapan dengan mengkonsumsi makanan berkarbohidrat, namun tiba-tiba mengkonsumsi makanan yang tinggi kadar proteinnya (misalnya daging dan telur), mungkin kita akan segera merasa letih atau merasakan sausana hati tak menentu.

Sebelum makan siang, mungkin kita sudah akan menyantap camilan mengandung karbohidrat tinggi, yang akhirnya akan meningkatkan kadar serotonin di dalam otak dan membuat kita merasa lebih nyaman. Jadi bila karbohidrat membuat perasaan hati begitu nyaman, mengapa kita tidak terus menyantap karbohidrat saja?

Seringkali orang menjadi kurang waspada, sulit berkonsentrasi, membuat lebih banyak kesalahan dan merasa mengantuk setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, dibandingkan setelah makan makanan kaya protein.