Bagaimana Fritjof Capra Mengupas Hubungan Virus Corona & Lingkungan

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Dalam kaitannya dengan virus Corona, seluruh perbincangan seputar sains telah sepenuhnya fokus dalam soal virus itu sendiri, serta bagaimana menciptakan vaksin untuk menanganinya. Tapi di satu sisi, jarang disinggung bagaimana proses dan pola terbentuknya virus tersebut.

Padahal itu adalah perbincangan penting. Sekurang-kurangnya karena fakta bahwa virus Corona bukanlah semata given, barang jadi yang datang begitu saja untuk diteliti di laboratorium. Sebagai entitas, jelas ia punya semacam biografi yang bisa dikupas. Sehingga, perbincangan tentang proses dan pola yang membentuk virus ini seharusnya penting dilakukan terus menerus.

Bacaan Lainnya

Dari perbincangan itulah akan tampak adanya sistem yang mengandung kepentingan, kekuatan, ide, atau bahkan ideologi di baliknya.

Beberapa saintis sudah melakukannya. Mereka mengupas bagaimana dan kenapa virus Corona terbentuk. Tulisan mereka—yang umumnya berpandangan bahwa segala hal berhubungan dengan segala hal, tanpa satupun ada di luar hubungan itu, termasuk virus Corona—bisa kita baca di internet yang sama, dengan internet yang kita gunakan untuk melihat youtube Deddy Corbuzier yang makin ke sini makin mirip ajang klarifikasi daripada podcast.

Fritjof Capra, dalam hal ini, adalah saintis yang paling dihormati gagasan-gagasannya. Ia fisikawan Austria-Amerika yang terkemuka lewat karyanya The Tao of Physics (1975).

Capra termasuk fisikawan yang bicara soal lingkungan hampir secara menyeluruh. Hal itu dimungkinkan karena dalam setiap pembahasannya, Capra memutar ilmu fisika yang semula keras, mekanistis, dan reduksionis, menjadi fisika yang lembut, organis, dan berpandangan sistem.

Pandangan Sistem Dimulai dari Fisika

Dalam bukunya The Turning Point (1982) Capra menulis bahwa paradigma untuk menentukan visi kehidupan baru mestilah melampaui batas-batas konseptual dan disiplin. Sebab, visi itu mengandung kesadaran akan kesalinghubungan dan saling ketergantungan semua fenomena—fisik, biologis, psikologis, sosial, dan kultural.

Dalam situasi semacam itu, Capra menilai teori fisika kontemporer dapat digunakan sebagai pendekatan awal. Kenapa? Karena pada dasarnya teori ini menekankan tentang hubungan yang dinamis, dan bukannya pada entitas-entitas yang terpisah.

Capra mencontohkan, bahwa ada sistem yang membentuk mental kolektif masing-masing individu di dalam sebuah lingkungan. Tiap individu terlibat dalam pola-pola mental kolektif itu, ikut membentuk pola itu, dan pada gilirannya ikut terpengaruh pola itu jika ada ketidakseimbangan kosmis, seperti misalnya pandemi Corona yang terjadi sekarang.

Membahas tentang virus Corona, Fritjof Capra menilai bahwa, “Pandemi Covid-19 adalah respons biologis dari planet tempat tinggal kita.”

Lebih lengkap, Capra mengatakan, virus Corona harus dilihat sebagai respons biologis dari Gaia, planet kita, terhadap keadaan darurat sosio-ekologis yang diciptakan oleh manusia sendiri. Pandemi muncul dari ketidakseimbangan ekologi, yang konsekuensinya adalah akibat dari adanya ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang dramatis.

Seterusnya, pandemi Covid-19 adalah akibat dari obsesi kita meramu tatanan dunia di bawah nama kapitalisme. Obsesi ini, dalam praktiknya, meletakkan soal profit di atas segala kenyataan dari kehidupan, lingkungan, atau pertimbangan-pertimbangan penting lainnya.

Dari soal profit itulah kemudian muncul jenis kebijakan rabun jauh dengan daya rusak luar biasa, yang sering kali gagal melihat masa depan sebagai berkah.

Dalam pada itu, Capra menilai saham terbesar atas kerusakan yang ada sekarang dipegang oleh korporasi pangan multinasional. Merekalah pihak-pihak yang menolak proses, yang karakternya hanya berfokus pada profit masa sekarang di tempat ini.

Sehingga, kelakuan mereka yang umumnya membabat habis sebagian besar hutan hujan tropis adalah absolute presentness; bukan hasil sejarah masa lampau, bukan untuk persiapan masa depan, yang mana itu mematahkan jaring kehidupan dan memicu krisis-krisis kesehatan.

Satu dari banyak konsekuensi tindakan merusak ini adalah bahwa virus, yang hidup bersimbiosis dengan spesies hewan tertentu, melompat dari spesies tersebut ke manusia, di mana mereka sangat beracun atau mematikan. Virus Corona menyebar dari satu spesies kelelawar ke manusia di Tiongkok, dan dari sana menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.

Barangkali memang tidak ada yang baru dalam pandangan Capra. Apalagi memang, ia sudah menuliskan pandangan semacam ini sejak beberapa dekade lalu. Meski tetap saja, pada gilirannya, soal lingkungan yang ia kemukakan selalu benar dilihat dari sisi manapun, dan semakin valid dari waktu ke waktu.

Pada kenyataannya, sejak lama Fritjof Capra (dan ilmuwan lainnya) telah mengatakan bahwa ada konsekuensi tajam atas pembangunan sosial, ekonomi, dan sistem-sistem yang tidak berbasis lingkungan. Sayangnya, selama ini peringatan ilmuwan diabaikan pemimpin politik maupun korporasi multinasional. Dalam kaitannya dengan keberadaan Covid-19, mereka pun sebetulnya sebatas ‘terpaksa’ memperhatikan soal kerusakan-kerusakan yang mereka sebabkan.

Avatar

Pos terkait