Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Hampir 65 Persen Orang Terinfeksi Corona Menderita Long Covid

Redaksi
×

Hampir 65 Persen Orang Terinfeksi Corona Menderita Long Covid

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Berdasarkan penelitian, hampir 65 persen orang terinfeksi virus corona menderita long covid. Mereka dengan gejala sedang dan berat berisiko tinggi mengalami Covid-19 lanjutan ini.

Gejala khas long covid adalah cepat lelah, sesak, nyeri dada, batuk kronik, nyeri sendi, pusing, mual hingga muntah. Keluhan ini bisa dirasakan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan tahunan. Tergantung tingkat keparahan saat masih positif Covid-19.

Lalu apa yang dimaksud long covid?

Dokter Spesialis Penyakit Paru dan Pernapasan Mayapada Hospital Tangerang (MHTG) dr. Andy Nazarudin, Sp.P menjelaskan long covid adalah suatu gejala atau sindrom Covid-19 berkelanjutan meski penderita sudah dinyatakan sembuh atau negatif melalui pemeriksaan laboratorium.

Pada umumnya, Covid-19 bisa sembuh setelah dua minggu. Tapi long covid bisa bertahan lebih dari itu. Bisa terjadi dalam beberapa minggu hingga satu tahun.

“Rata-rata 2-3 bulan, walaupun sudah dinyatakan negatif oleh dokter penanggung jawabnya,” kata dr. Andy dalam Bincang Sehat bertajuk “Dampak Jangka Panjang Covid-19” yang disiarkan di Radio Sonora, Senin (22/3/2021).

Penyebab long covid adalah terjadinya fibrosis atau luka parut pada jaringan paru-paru. Seperti halnya pada kulit, jika terluka akan menimbulkan luka parut atau keloid.

Covid-19 bisa menyerang semua organ. Namun, pada intinya virus corona menyerang saluran paru-paru. Pada penderita Covid-19 dengan keparahan sedang hingga berat, virus ini menyerang paru – paru sehingga menimbulkan fibrosis. Luka yang ditimbulkan tersebut bersifat menetap seumur hidup dan tidak bisa kembali normal.

“Itu (fibrosis) yang bisa menyebabkan kapasitas paru-paru dan fungsinya terganggu,” katanya.

Akibatnya, penderita long covid akan mengalami penurunan kualitas hidup. Mereka akan merasakan cepat lelah saat bekerja atau melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya merasa lelah saat berjalan 50 – 100 meter, padahal pada kondisi normal tidak masalah.

Semua orang yang terinfeksi virus corona memiliki peluang terkena long covid, baik dari gejala ringan hingga berat. Namun pasien dengan usia tua, memiliki banyak komorbit, bergejala sedang dan berat, serta yang sering mendapatkan suplemen oksigen lebih besar peluangnya terkena long covid.

“Pasien-pasien yang terkena long covid itu rata-rata pasien yang dirawat di rumah sakit. Karena kalau pasien yang dirawat di rumah sakit tingkat keparahannya sudah sedang dan berat. Nah itu kemungkinan besar hampir 65 persen pasien-pasien tersebut akan mengalami long covid,” papar dr. Andy.

Tapi tidak menutup kemungkinan orang-orang yang tidak dirawat juga bisa terkena long covid. Banyak orang yang sebenarnya bergejala sedang atau berat namun memilih untuk isolasi mandiri. Karena tidak terdeteksi, mereka berisiko terkena long covid.

Untuk itu, dr. Andy menyarankan untuk deteksi dini. Jika mengalami gejala Covid-19 sedang atau berat segeralah datang ke rumah sakit untuk dilakukan screening paru-paru dan perawatan. Sebab, jika kerusakan paru-parunya hanya lima persen, long covid dapat disembuhkan.

“Kalau lebih dari 25 persen akan mengganggu fungsi pernapasan,” ucapnya.

Ia melanjutkan pada penderita Covid-19 bergejala ringan, biasanya hanya merasakan demam dan flu biasa. Tapi tidak pada penderita dengan gejala sedang, mereka juga akan mengalami gangguan pernapasan.

“Artinya jaringan paru-parunya sudah kena. Harus hati-hati, disarankan untuk dirawat di rumah sakit,” ujarnya.

Kemudian dr. Andy menambahkan agar tidak terkena long covid masyarakat harus menjaga imunitas dan mematuhi protokol kesehatan. Khususnya bagi perokok berat, karena merokok bisa merusak pertahanan saluran pernapasan terhadap serangan virus corona.