Khazanah

Ilmu yang Bermanfaat: Kitab Ayyuha Al Walad dan Ihya Ulumuddin

Avatar
×

Ilmu yang Bermanfaat: Kitab Ayyuha Al Walad dan Ihya Ulumuddin

Sebarkan artikel ini
Ihya Ulumuddin

Barisan.co – Kitab Ayyuha al-Walad adalah kitab karangan Imam Abu Khamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Menurut al-Ghazali dalam bukunya Ayyuha’ al Walad menyebutkan bahwa Ilmu tanpa amal adalah suatu yang tidak logis, dan amal tanpa ilmu tidak akan menghasilkan.

Al Ghazali berpesan, ketahuilah ilmu tidak akan menjauhkanmu dari maksiat, tidak akan menyebabkanmu dari taat, dan tidak akan sekali-kali melindungi dari neraka pada hari kiamat.

Berbicara tentang ilmu, Al Ghazali dalam karyanya Ihya Ulumuddin menyampaikan bahwa orang yang mempunyai ilmu itu derajatnya lebih tinggi dari pada orang yang tidak mempunyai ilmu, jadi ilmu sangat penting untuk manusia.

Rasulullah menekankan pentingnya ilmu bagi setiap muslim dan muslimat. Bahkan berkaitan dengan ilmu Nabi Muhammad Saw menhukumi wajib sebagaimana Al Ghazali menyitir hadits:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap pribadi muslim

Konsep ilmu menurut al-Ghazali adalah kerangka landasan yang dapat dijadikan rambatan menuju tercapainya islamisasi pengetahuan. Al Ghazali membuat suatu rentangan antara ilmu agama dan ilmu umum dengan jalan menekankan manfaat penuntut ilmu bagi penuntut ilmu.

Barang siapa yang berilmu dan mengamalkan ilmu, diakui dan dikatakan sebagai yang terbesar di angkasa raya ini, sebab ia bagaikan sang surya, disamping menerangi benda lain selain dirinya, juga menerangi dirinya sendiri atau bagaikan minyak kasturi yang disamping membuat harum sekitarnya, dirinya tetap harum.” (al-Ghazali, Ihya Ulumuddin: 1957 : 57)

Al Ghazali adalah orang yang senantiasa mengagumi ilmu dan bukan anti terhadap intelektualisme kecuali dia memberikan penilaian yang negatif terhadap filsafat metafisika yang dianggap merongrong send-sendi aqidah muslim.

Ilmu yang bermanfaat

Pentingnya ilmu dikembangkan mengingat manfaat yang begitu besar bagi kehidupan manusia. Akan tetapi bila manusia itu pelit dengan ilmu yang dimilikinya, maka akan membawa efek dimana manusia menjadi bodoh, termasuk jika ahli mengajar / fatwa telah meninggal dunia, maka ilmunya musnah terbawa.

Seperti yang diucapkan Al Ghazali kepada murid kesayangannya dalam bukunya yang berjudul Ayyuha al-Walad bahwasanya:

ايهاالولد ، النصيحة سهلة والمشكل قبولها ، لا فى مذاق متبعى الهوى مرة ، اذ المناهى محبوبه فى قلوبهم ، وعلى الخصوص لمن كان طالب العلم الرسمى ، ومشتغلا فى فضل النفس ، ومناقب الدنيا ، فانه يحسب ان العلم المجردله سيكون نجاته وخلاصه فيه ، وانه مستغن عن العمل . وهذا اعتقاد الفلاسفة. سبحان  الله العظيم ! لا يعلم هذا المغرو أ نه حين حصل العلم ، اذالم يعمل به.

Duhai Anakku …. memberikan nasehat itu mudah, tetapi sulit (mencari orang yang mau) menerimanya. Bagi orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya nasehat itu terasa pahit. Ia menyukai hal-hal yang dilarang Allah, khususnya orang yang mendapat pendidikan formal dan menyibukkan diri mengejar kemuliaan diri dari kemegahan dunia, ia menyangka bahwa hanya dengan berbekal ilmu saja tanpa amal ia dapat selamat adalah keyakinan kaum filosof. Subhanallahul azhimi ia tidak sadar, bahwa bila ia tidak mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya, maka ilmu itu tidak akan menjadi alasan bagi Allah untuk menghukumnya (dihari kiamat)”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *