Hari Braille Sedunia adalah pengingat bahwa kesetaraan akses terhadap informasi dan literasi adalah hak asasi yang harus diperjuangkan.
BARISAN.CO – Setiap 4 Januari, dunia merayakan Hari Braille Sedunia. Hari yang penuh makna ini didedikasikan untuk menghormati Louis Braille, pencipta sistem braille yang memungkinkan akses literasi bagi individu tunanetra.
Sistem braille adalah sebuah inovasi sederhana namun monumental yang membuka pintu dunia literatur bagi jutaan orang yang memiliki keterbatasan penglihatan.
Pada usia tiga tahun, ketika ia tidak sengaja terkena cedera pada matanya dengan alat yang digunakan ayahnya dalam pekerjaan tukang gergaji, dan hidupnya berubah secara drastis sejak saat itu: Braille kehilangan penglihatan.
Meskipun kehilangan penglihatan, semangatnya untuk belajar dan pengetahuannya tetap tidak terbendung.
Di usia 10 tahun, ia mendapat kesempatan untuk belajar di Institut untuk Anak Tunanetra di Paris. Di sana, ketertarikannya pada dunia tulis-menulis mendorongnya untuk menciptakan sistem yang revolusioner.
Terinspirasi oleh sistem taktile yang digunakan dalam militer, ia merancang sistem yang menggunakan serangkaian titik-titik kecil yang dapat dibaca dan ditulis dengan menggunakan jari. Meskipun sistem yang ia ciptakan diremehkan pada awalnya, keunggulannya akhirnya diakui secara luas.
Namun, Louis tidak pernah melihat kesuksesan besar penciptaannya ini. Ia meninggal dunia pada tahun 1852, tapi sistem yang ia ciptakan tetap menjadi cahaya harapan bagi jutaan orang tunanetra di seluruh dunia.
Sistem braille ini tidak hanya memberikan akses pada teks, tetapi juga memungkinkan tunanetra untuk mengekspresikan diri mereka melalui tulisan. Sebuah langkah luar biasa dalam memperluas ruang literasi bagi komunitas tunanetra di seluruh dunia.
Hari Braille Sedunia adalah saat yang tepat untuk merayakan kesempatan yang diciptakan oleh Louis Braille.
Dengan bantuan teknologi modern, sistem ini telah berkembang dari buku-buku khusus menjadi format digital yang memungkinkan akses yang lebih luas.
Pentingnya literasi bagi kehidupan tidak dapat diragukan lagi. Di tengah kemajuan teknologi, memastikan bahwa akses terhadap literasi terbuka bagi semua individu menjadi semakin penting.
Hari Braille Sedunia adalah panggilan untuk terus mendukung pendidikan inklusif dan kesetaraan akses terhadap informasi untuk semua.
Saat kita merayakan Hari Braille Sedunia, mari kita menghargai pencapaian sang penemu yang mengubah cara individu tunanetra mengakses dan mengeksplorasi dunia tulis-menulis. Namun, perjuangan untuk mencapai kesetaraan akses masih belum selesai.
Pendidikan inklusif, akses terhadap teknologi, dan dukungan masyarakat adalah kunci untuk memastikan bahwa individu dengan keterbatasan penglihatan memiliki akses penuh terhadap literasi.