Memahami Angka Kemiskinan di Indonesia [Bagian Enam]

  • Whatsapp
Memahami kemiskinan di Indonesia/Foto: unsplash.com

Barisan.co – BPS sejak awal menyadari penggambaran kemiskinan membutuhkan informasi yang lebih banyak dan presisi tentang keluarga miskin. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Konsumsi dan Kor yang dilaksanakan pada bulan Maret serta beberapa survei terkait pun sebenarnya berbasis keluarga. Perhitungan per kapita lebih merupakan hasil olahan.

BPS memublikasi data profil rumah tangga miskin secara rutin. Kini terdiri dari empat karakteristik utama. Yaitu dari segi sosial demografi, pendidikan, ketenagakerjaan, dan ciri tempat tinggal. Sebagiannya akan dibahas pada tulisan ini.

Bacaan Lainnya

Aspek sosial demografi menyajikan: rata-rata jumlah anggota rumah tangga, rata-rata lama sekolah kepala rumah tangga, persentase kepala rumah tangga perempuan, dan usia kepala rumah tangga.

Rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin adalah sebesar 4,68 orang pada Maret 2019. Lebih banyak dibandingkan dengan rumah tangga yang tidak miskin sebesar 3,67 orang. Jumlah ini memiliki tren menurun selama 15 tahun terakhir namun masih pada angka lebih dari 4,5 orang.

Rata-rata anggota keluarga penduduk miskin di perkotaan lebih banyak dari perdesaan.

Makin banyak anggotanya, maka beban rumah tangga dianggap makin besar. Selain jumlah yang lebih banyak pada rumah tangga miskin, ada indikasi memiliki lebih banyak anggota yang tidak produktif.


Rata-rata Jumlah Anggota Keluarga Rumah Tangga Miskin

(Sumber data: Badan Pusat Statistik)


Rata-rata lama sekolah kepala rumah tangga miskin pada Maret 2019 sebesar 5,61 tahun. Mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2005 yang selama 4,5 tahun. Data lama sekolah selama 4-6 tahun berarti kepala rumah tangga hanya mengenyam pendidikan dasar. Kondisi perdesaan masih lebih buruk dari perkotaan.

Sebagai perbandingan, rata-rata lama sekolah kepala rumah tangga tidak miskin pada Maret 2019 sebesar 9,48 tahun.

Edukasi kepala rumah tangga dianggap penting karena berhubungan dengan kesempatan menciptakan pendapatan. Pendidikan yang hanya sampai sekolah dasar atau bahkan belum tamat akan menyulitkan rumah tangga miskin untuk keluar dari kemiskinannya.


Rata-rata Lama Sekolah Kepala Rumah Tangga Miskin (Tahun)

(Sumber data: Badan Pusat Statistik)


Karakteristik aspek demografis lain berupa rata-rata umur kepala rumah tangga rumah tangga miskin yang cenderung tidak muda. Mencapai usia 50,76 tahun pada Maret 2019, dengan rata-rata yang hampir setara di perdesaan dan perkotaan. Usia itu dinilai cenderung kurang produktif. Setidaknya lebih tua dibanding rata-rata kepala keluarga penduduk tidak miskin, yang hanya 48,19 tahun.

Ada data karakteristik aspek demografis berupa perempuan sebagai kepala rumah tangga. Tahun 2019 sejumlah 16,19 persen rumah tangga miskin dikepalai oleh perempuan. Menjadi tantangan tersendiri bagi seorang perempuan berperan ganda untuk menciptakan pendapatan dan penghidupan bagi keluarganya serta mengurusi rumah. Selama 15 tahun terakhir persentasenya fluktuatif dengan tren yang meningkat. Artinya, perempuan yang menjadi sandaran hidup keluarga semakin meningkat.

Profil dari aspek pendidikan rumah tangga miskin dirinci lagi berupa tingkat pendidikan kepala rumah tangga. Secara umum, semakin tinggi tingkat pendidikan yang berhasil ditamatkan kepala rumah tangga miskin, maka semakin sedikit jumlah rumah tangga miskinnya. Menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang berhasil ditamatkan maka semakin kecil kemungkinan rumah tangga tersebut miskin.

Pendidikan terakhir kepala rumah tangga miskin SD dan tidak tamat SD masih mendominasi. Akumulasi dari persentase kepala rumah tangga tamatan SD dan tidak tamat SD mencapai 73,54 persen per tahun 2019. Sementara itu, kepala rumah tangga dengan pendidikan terakhir SLTA mencapai 11,12 persen dan Perguruan Tinggi mencapai 1,15 persen.

Masih adanya kepala rumah tangga miskin dengan pendidikan terakhir perguruan tinggi juga menjadi kekhawatiran tersendiri karena dengan pendidikannya ternyata belum mampu mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. Terlebih, persentase ini memiliki tren yang terus meningkat sejak tahun 2005 meski nilainya relatif kecil.


Pendidikan Kepala Rumah Tangga Miskin (%)

(Sumber data: Badan Pusat Statistik)


Dari aspek ketenagakerjaan, umumnya rumah tangga miskin menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Mencapai hampir separuhnya, yaitu sebesar 49,41 persen pada 2019. Selama 15 tahun berjalan, hampir separuh dari rumah tangga miskin penghasilan utamanya berasal dari sektor pertanian. Bahkan pada tahun 2009 sempat mencapai 64,65 persen.


Sumber Penghasilan Utama Kepala Rumah Tangga (%)

(Sumber data: Badan Pusat Statistik)


Sementara itu, jumlah rumah tangga miskin yang mendapatkan penghasilan utama dari sektor industri sangat rendah. Tahun 2019 hanya mencapai 6,51 persen rumah tangga miskin.

Sementara itu, persentase rumah tangga miskin yang tidak bekerja tercatat cukup tinggi, dengan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2019 mencapai 14,02 persen. Kelompok ini perlu perhatian yang lebih besar, mengingat akan kesulitan bertahan hidup dalam jangka panjang tanpa sumber pendapatan.

BPS membuat berbagai macam indikator tambahan untuk menggambarkan kehidupan rumah tangga miskin, sekaligus bisa menjadi rujukan awal rekomendasi kebijakan. Sebagai contoh, gambaran tempat tinggal rumah tangga miskin dan fasilitasnya, seperti: jenis lantai dan luas lantai per kapita, dinding, atap, sumber air bersih, dan kepemilikan jamban. Aspek semacam ini tentu perlu konteks wilayah dengan ragam budaya dan kebiasaannya.


Seri tulisan Kemiskinan lainnya:
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima
Bagian Tujuh

Kontributor: Awalil Rizky

Editor: Ananta Damarjati

Redaksi

Pos terkait