Scroll untuk baca artikel
Ekonopedia

Mengenal Produk Domestik Bruto [Bagian Delapan]

Redaksi
×

Mengenal Produk Domestik Bruto [Bagian Delapan]

Sebarkan artikel ini

Barisan.co – Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan berbagai angka turunannya dapat diperbandingkan dengan negara-negara lain. Bank Dunia secara rutin melakukan hal tersebut, dengan memakai satuan dolar Amerika.

Sebagai contoh, PDB pada tahun 2019 yang menurut Badan Pusat Statistik sebesar Rp15.833,94 triliun, dinyatakan Bank Dunia sebagai US$1.119,19 miliar. Merupakan peringkat ke-16 dari seluruh negara di dunia, dan peringkat pertama di ASEAN.

Perbandingan PDB atau Gross Domestic Product (GDP) per kapita, setelah memperhitungkan jumlah penduduk, biasanya lebih menarik dan “fair”. Dalam perhitungan ini Indonesia sebesar US$4.136 pada tahun 2019, dan hanya berada di peringkat 118 dunia. Hanya peringkat lima dari 10 negara ASEAN. Bahkan, masih di bawah rata-rata dunia yang sebesar US$11.436.


GDP Per Capita (Current US$)

(Sumber Data: Bank Dunia)


Bank Dunia juga menyajikan perhitungan GDP negara-negara berdasar apa yang disebut dengan purchasing power parity (PPP). Hal itu untuk menyesuaikan nilai GDP nominal tadi dengan paritas daya beli. Satu dolar dimaksud dalam data PPP disetarakan dengan daya beli satu dolar di Amerika Serikat. Tentu berdasar metodologi dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dalam hal ini.

GDP Indonesia berdasar PPP melonjak signifikan dibanding secara nominal menjadi sekitar tiga kali lipatnya. Urutannya pun naik ke peringkat 7, seperti yang sempat dibanggakan Presiden Jokowi. PDB PPP per kapita dengan sendirinya juga lebih tinggi, mencapai US$12.302 pada 2019. Namun, masih berada pada peringkat 90-an. Nilainya pun masih di bawah rata-rata negara di dunia, yang sebesar US$17.680.

Hal serupa terjadi pada China yang menempati urutan ke-2 dalam GDP nominal, dan bahkan urutan pertama dalam GDP PPP. Bisa dikatakan, biaya hidup di Indonesia dan China terbilang rendah secara perbandingan internasional, sehingga nilai GDP berdasar paritas daya beli (PPP) tercatat lebih tinggi. Dan jika memperhitungkan jumlah penduduk, maka peringkat China pun langsung merosot. Bagaimanapun, GDP PPP per kapita China telah jauh melampaui Indonesia dan makin mendekati rata-rata dunia.


GDP Per Capita, PPP (Current International $)

(Sumber Data: Bank Dunia)


Sebagaimana dijelaskan dalam tulisan bagian dua, PDB memakai konsep wilayah, sehingga termasuk data produksi oleh nonpenduduk (asing) di Indonesia, serta tidak termasuk produksi penduduk Indonesia di luar negeri. Konsep yang mengeluarkan faktor luar negeri neto disebut sebagai Produk Nasional Bruto (PNB), yang kini oleh Bank Dunia disebut Gross National Income (GNI). Sederhananya, yang ingin disajika adalah produksi atau pendapatan warga negara yang bersangkutan.

Serupa dengan GDP, ada GNI nominal, GNI per kapita, serta GNI berdasar paritas daya beli (PPP). Untuk kasus Indonesia, GNI nya sedikit lebih rendah dari GDP, karena faktor neto luar negeri bernilai minus. Pendapatan atau produksi asing di Indonesia melebihi produksi penduduk Indonesia di luar negeri.

Selain penyesuaian atas paritas daya beli, Bank Dunia selama beberapa tahun terakhir mengenalkan metode atlas (atlas method) atas data GNI. GNI metode atlas menerapkan faktor konversi kurs yang memperhitungkan perbedaan tingkat inflasi antar negara selama beberapa tahun pengamatan. Intinya, bukan memakai kurs resmi ataupun yang “disesuaikan” seperti data GDP terdahulu.

GNI Indonesia berdasar metode atlas pada tahun 2019 sebesar US$1.097 miliar, atau sedikit lebih tinggi dibanding GNI nominal yang sebesar US$1.086 miliar. GNI Indonesia per kapita berdasar metode atlas mencapai US$4.050.

Atas dasar data itu Indonesia naik peringkat menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country). Klasifikasi terbaru Bank Dunia untuk kelompok itu adalah memiliki GNI per kapita metode atlas antara US$4.046 dan US$12.535.