Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Salat Awwabin

Redaksi
×

Salat Awwabin

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Masih bersama Muhammad Zuhri. Dalam kesempatan ini, akan saya petikkan hikmah darinya dan kiranya pas dengan situasi pandemi Covid-19 yang tak kunjung surut. Di suatu ceramahnya, dia berkisah bahwa dulu, ketika suatu kerajaan lagi dilanda wabah penyakit, tragedi bencana, dan sejenisnya, maka singkat kisah sang raja akan meminta nasihat kepada pendeta. Sang pendeta pun meminta balik: “aku hanya butuh seorang putra terbaik kerajaan untuk dijadikan tumbal.”

“Itu simbolis,” jelas Muhammad Zuhri, “sekira putra terbaik itu mau mati demi kebaikan kerajaan, demi umat manusia, niscaya wabah menghilang. Tragedi selesai. Dan, kerajaan pun kembali pulih aman sentosa.”

Apa maknanya? Pertama, kata “mati” di situ bukan dalam arti meninggal dunia berkalang tanah, melainkan kondisi diri individu yang telah selesai dengan dirinya. Ia telah terpanggil menanggalkan ego kecilnya untuk mengurusi masalah yang lebih besar, masalah umat manusia, masalah kehidupan.

Kedua, soal jalan sufi yang terbukti berhasil melahirkan pribadi-pribadi agung yang berkualitas universal. Pribadi yang tulus, tanpa pamrih selain rida Tuhan, terjun memayungi dunia dari terik yang menyusahkan.

Jalan tasawuf itu adalah transendensi. Kawah pendadaran diri sebelum sang pribadi turun bekerja secara ihsan. Ihsan adalah kehendak berbuat baik di mana pun dan kepada siapa pun.

Namun, Pak Muh mengingatkan bahwa ihsan ini hakikatnya perbuatan Tuhan. Perbuatan Tuhan yang aktual melewati diri manusia. Singkatnya, ihsan merupakan laku seseorang menghadirkan Tuhan.

Maka, yang mesti dilakukan adalah menyiapkan diri untuk layak dipakai Tuhan, yakni dengan menghilangkan keakuan, ego kecil, agar kemudian lahir ego besar, Tuhan.

Nah, transendensi menjadi momen kematian seperti yang dimaksud oleh pendeta di atas, yaitu momen menjalin hubungan mesra dengan Allah. Momen bertasawuf. Momen bersemadi. Karena ada rumus dalam mazhab sufi: “Bila kita hidup, Allah akan mati. Sebaliknya bila kita mati, Allah akan hidup.”

Maka, Pak Muh menawarkan satu teknis “mati” yang menyelamatkan kehidupan, yakni salat awwabin. Salat ini dilaksanakan seusai magrib hingga isya sebanyak 20 rekaat, dengan dua rekaat satu salam dua rekaat satu salam. Bacaan yang dipakai pun, sehabis surat Al-Fatihah, semuanya adalah surat Al-Ikhlas.

Itulah proses kembali kepada Allah. Proses mengkhususkan-Nya, dalam arti mematikan diri dan menghidupkan Tuhan. Proses yang tidak sampai merenggut banyak waktu, ya, paling hanya butuh maksimal sejam.

Namun, berdampak luar biasa, berdampak ke lingkungan. Lantaran kesediaan kita untuk benar-benar menomorsatukan-Nya, niscaya Tuhan pun mengkhususkan kita. Menjaga lingkungan sekitar dari pelbagai aral. Dari segenap bala.

Jadi, meski sejam, atau malah cuma setengah jam, tapi bisa sama dengan keseluruhan waktu. Saat momen satu jam itu, kita sungguh-sungguh menahan diri dari urusan dunia, urusan bisnis, urusan bertetangga, urusan menghormati tamu, dan seterusnya. Oleh karenanya, siapa sanggup menjalani salat malam yang dilakukan di awal waktu ini, sama artinya telah mewakili umat. Mewakili komunitas di sekitarnya. Dan, ia akan menunda “sesuatu” yang tak diinginkan yang bakal menimpa suatu kaum, di mana ia berada di situ.

Sungguh, kita akan dihindarkan dari bencana, dari wabah, dari tindak kejahatan. Asal saja, sehabis magrib hingga isya, saat menjalani salat awwabin, kita benar-benar mati. Ada acara budaya apa saja tunda, nanti setelah selesai.

Sekali lagi, kematian yang cuma setengah jam, sudah dianggap kematian diri yang menghidupkan Tuhan, yang bakal mengamankan diri dan mengamankan yang lain mulai dari yang terdekat dan terus meluas.