Scroll untuk baca artikel
Kolom

Salah Kaprah di Ruang Kreatif Budaya

Redaksi
×

Salah Kaprah di Ruang Kreatif Budaya

Sebarkan artikel ini

Membangun sikap menumbuhkan peran budaya, bukanlah persoalan yang mudah. Permasalahannya, karena ruang kreatif budaya terasa makin sempit

RUANG kreatif sebagai instrumen dalam menyampaikan ide, gagasan atau karya, tentunya mempunyai tujuan untuk menghasilkan karya. Dalam hal ini, patron budaya sangat memegang nilai penting dalam melahirkan karya-karya tersebut. Bagaimana menuangkan  bahasa dan seni, gerak serta gambar adalah sebuah budidaya atau kreasi dalam penciptaan karya. Dimana budaya merupakan satu-kesatuan dalam membentuk nilai-nilai etika dan estetika.

Kenapa ruang kreatif ini kadang menimbulkan ekses negatif, sementara seni dengan berbagai aliran harus mengisi ruang-ruang tersebut? Dalam beberapa waktu yang lalu, faktanya para penggiat seakan vakum melahirkan karya-karya budaya!?

Ini kita bisa maklumi, karena dengan adanya pembatasan sosial, ruang-ruang tersebut menjadi hambar. Karena seni meskipun dengan aliran abstrak, harus ada hasil visualisasi yang dapat dilihat, diraba dan dirasakan oleh penikmatnya.

Kehadiran teknologi yang memanfaatkan dimensi digital, memang cukup menjanjikan bagi para penggiat seni audio visual, atau juga seni sastra. Tetapi tidak demikian dengan penggiat seni lainnya, seperti seni lukis dan seni teater (salah satu contoh).

Ekspresi yang dilahirkan tidak hanya dengan teknik permainan digital (pemanfaatan kecerdasan buatan). Bagi mereka dimensi ruang adalah bekerja dengan teknik tradisional (manual), sementara interaksi sosial yang sangat terbatas.

Kenapa kemudian, gagasan atau ide berupa kritik harus mencederai kebebasan budaya. Nilai budaya seakan dikorbankan, dan diartikan sebagai kreativitas seni sementara muatannya sarat dengan kepentingan politik.

Kita cukup prihatin beberapa waktu lalu, ketika kebebasan seni mural digunakan dengan dalil pembenaran yang mengatasnamakan seni. Bagaimana tembok-tembok sebagai ruang kreatif dianggap sebagai tempat melahirkan karya seni mural. Tentu kita harus menempatkan di sisi mana, seni mural ini menjadi sebuah nilai karya.

Tekanan-tekanan yang mengiringi perubahan ekosistem sosial, seakan menjadi alibi untuk memerdekakan pembenaran samar. Pikiran dan waktu yang terforsir oleh sebuah persoalan bangsa yang berlabel pandemi, seakan meluluhlantakkan sebuah kepastian logika. Kenapa menjadi sebuah label, karena senantiasa mata kita membaca dan melihatnya dari waktu ke waktu.

Perubahan dan pergeseran nilai seperti angka yang menyusun algoritma sosial. Sehingga peradaban ini menjadi sebuah kesimpulan tanpa perlu mencari solusi matang dan kuat.

Hampir semua orang tercengang dengan presisi mengatasi masalah penyebaran pandemi virus secara global (kompleks) yang harus dilewati. Meski dalil ancaman atau gelombang wabah masih bisa terulang kembali.

Persoalan hidup seperti menguraikan benang merah yang karut-marut. Hidup dalam ketakutan, tekanan psikologi, ancaman hoaks dan rasa curiga menjadi sebuah ketidakpastian yang akhirnya membuat kebenaran budaya, hidup dalam ruang sempit.

Apakah kita mulai kehilangan esensi budaya? Nilai yang sering kita kultuskan sebagai identitas dan jati diri bangsa. Naluri budaya yang meletakkan nilai-nilai etika dan estetika, seperti sebuah norma yang tidak lagi sejalan dengan tantangan zaman, yang harus dihadapi.

Replika peradaban mulai beranjak dalam konteks baru, meski harus diraba dengan morfem klasik, agar kita terkesan masuk di era globalisasi yang semakin modern.

Simbol dan istilah adalah fenomena yang membuat batasan zaman jadi berbeda. Kita menangkap revolusi ini dari bahasa-bahasa instan (adopsi teknologi), tanpa memperhitungkan peran linguistik.

Kita kehilangan norma, tetapi kita membiarkan peradaban yang menjawabnya. Istilah penyebaran pandemi covid-19, tercatat dan melahirkan literasi istilah yang beranak-pinak dalam pengembangan dan kemajuan iptek.

Kita merindukan sesuatu yang terasa hilang. Sesuatu yang membangkitkan keindahan seni, yang bergerak bebas di ruang budaya. Aroma rindu yang sebenar-benarnya seakan terhalang oleh tembok baja. Di balik tembok itu ada cahaya kebebasan yang menyerupai ruang kreatif, untuk tinggalkan segala cemas.

Kerinduan yang terpenggal, tersakiti, terkekang oleh alibi samar. Meski salah kaprah, tetapi ini menjadi pilihan untuk selamatkan mimpi, karena melewati dan menembusi tembok itu bagai menghadapi pasukan kapitalisme yang berlapis-lapis.

Mimpi yang diterjemahkan sebagai ruang abstrak, sebagai kembang tidur dan sulit terwujud. Kecuali mimpi itu menjadi isyarat metafisik yang akan terjadi di balik kekuatan paranormal atau indigo. Meski mimpi itu tidak harus terwujud, masih ada harapan untuk bertahan, walaupun dengan napas yang tersengal-sengal.

Adakah angan dari riuhnya angin untuk meraih kembali kenangan emas dan manis, yang tidak sekedar utopia, tidak sekedar retorika, tidak sekedar ilusi? Meletakkan sebuah makna, yang mungkin kini terpendam, terkubur, sudah usang, hanyalah selintas potret untuk tetap bersikap bijak dan seolah-olah memang tampak bijak.

Membaca kembali –holopis kuntul baris– sebuah istilah yang mungkin kelihatan asing bagi generasi masa kini, tetapi perlu diteladani serta dipelihara oleh sebuah masa yang menyatukan kemajemukan dan marjinalitas suku bangsa kita.

Sikap bergotong-royong adalah cerminan yang mengadopsi makna Pancasila, sekaligus sebagai sikap religiusitas suku adat, turun-temurun untuk tetap mempertahankan kemurnian budaya bangsa. Apakah ini hanya dianggap sebuah mantra untuk mengukuhkan Pancasila tetap berdiri tegak, di tengah hiruk-pikuk yang mengatasnamakan nasionalisme?

Pancasila itu adalah cakrawala dan akar budaya dari semua kemajemukan bangsa. Bukan hanya sebuah slogan untuk mempresentasikan jargon politik.

Membangun sikap dalam menumbuh-kembangkan peran budaya, bukanlah persoalan yang mudah. Permasalahannya, karena ruang kreatif budaya terasa makin sempit, meskipun makin pesatnya pertumbuhan literasi bahasa. Di satu sisi, kemajuan iptek sering dijadikan solusi dari segala kebuntuan kreasi.

Sayangnya, ini menjadi lahan basah untuk tumbuhnya isu-isu hoaks yang membunuh karakter budaya. Salah kaprah menjadi sebuah keberanian dari ketakutan kita untuk meletakkan nilai-nilai fundamental budaya.

Berbagai cara untuk mengekspresikan kritik membangun, dianggap sebagai ancaman atau provokasi. Yang kadang menjadi buah simalakama, kreativitas ini kadang dihubung-hubungkan dengan sebuah gerakan yang berbau radikalisme dan ekstremisme. Inilah kekacauan dari sikap cemas yang menjadi virus dalam hakiki budaya. Dampak terbesar menjadi kenyataan pahit dalam mematikan karakter manusia.

Kemana kita harus pergi? Lisan bukanlah lagi seperti corong untuk meluruskan kemerosotan nilai demokrasi. Puisi bergerak bebas dan liar, hanya untuk memuaskan mata.

Bukan untuk memajukan seni yang menjadi kaki-tangan budaya. Sesungguhnya kreativitas karya tidak harus berharap apresiasi, harus tumbuh secara alami. Karena budaya ruang hidupnya selalu dinamis.

Ruang hidup budaya adalah berkembangnya kontemplasi pemikiran manusia menuju kesempurnaan. Pemikiran sebagai entitas (wujud) untuk selalu beranjak dari ketidakmampuan, ketidakpastian, ketidaksempurnaan akal manusia menuju hakiki kebenaran dan keadilan. Lalu, bagaimana solusi terbaik dari segala kebuntuan ini?

Salah satu cara, apakah makna –Holopis Kuntul Baris- sudah tidak sesuai lagi dengan perubahan masa? Sedikit mengutip gagasan yang pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat (antropolog), bahwa budaya memiliki unsur-unsur berupa gagasan dan rasa, yang kemudian menghasilkan sebuah karya.

Disini tampak, bahwa unsur budaya adalah sebuah pola bersama dari perilaku dan interaksi yang menjadi kontruksi sosial. Sebuah ruang kreatif diperlukan untuk membangun kemampuan manusia dalam menjaga tradisi budaya. Maka sangat penting, menghidupkan kembali aspek budaya dalam kehidupan manusia, tidak dipandang dalam pengertian salah kaprah untuk selalu membenarkan peradaban dengan logika samar. [Luk]