Scroll untuk baca artikel
Berita

Haul Akbar Masyayikh 2026, KH Ubaidullah Shodaqoh: Warisan Terbesar Mbah Ibrahim Brumbung adalah Sanad Zikir

×

Haul Akbar Masyayikh 2026, KH Ubaidullah Shodaqoh: Warisan Terbesar Mbah Ibrahim Brumbung adalah Sanad Zikir

Sebarkan artikel ini
Mbah Ibrahim Brumbung
KH Ubaidullah Shodaqoh

BARISAN.CO – Pondok Pesantren Ibrohimiyah menggelar Haul Akbar Masyayikh Tahun 2026 di kompleks Pondok Pesantren Ibrohimiyah Mbah Ibrahim Brumbung, Rabu (22/7/2026) malam.

Puncak haul menghadirkan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Ubaidullah Shodaqoh, yang menyampaikan tausiyah tentang pentingnya menjaga sanad, memperbanyak zikir, serta menghormati para ulama sebagai pewaris perjuangan Rasulullah Saw.

Haul Akbar Masyayikh tahun ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa hari.

Berbagai agenda diselenggarakan untuk mengenang jasa dan perjuangan Mbah Ibrahim Brumbung, di antaranya Pawai Ta’aruf, Sima’atul Al-Qur’an, ziarah bersama dzuriyah.

Juga Seremoni haul di Astana Syekh Ibrahim Brumbung, Sima’atul Al-Qur’an di Masjid Thariqah Ibrohimiyah, Halaqah Mutaakhirin wa Mutaakhirat, hingga ditutup dengan pengajian umum oleh KH. Ubaidullah Shodaqoh.

Dalam tausiyahnya, KH. Ubaidullah mengenang perjuangan Mbah Ibrahim Brumbung dalam menyebarkan dakwah dan ajaran tarekat hingga ke berbagai penjuru Nusantara.

Beliau menggambarkan bahwa sekitar 70 tahun silam, kawasan Brumbung masih berupa desa sederhana yang dikelilingi hamparan sawah. Jalan menuju daerah tersebut pun masih berupa tanah sehingga sulit dilalui, terutama saat musim hujan.

“Zaman itu belum ada telepon, handphone, WhatsApp, apalagi TikTok. Namun berkat keikhlasan dan keberkahan perjuangan Mbah Ibrahim Brumbung, murid-murid beliau menyebar ke seluruh Nusantara, bahkan hingga Malaysia dan Singapura,” tuturnya.

Menurut KH. Ubaidullah, tidak ada yang menyangka dari sebuah desa yang sederhana dapat lahir seorang ulama yang membimbing begitu banyak murid hingga ke luar negeri. Hal itu menjadi bukti keberkahan perjuangan para wali dan mursyid dalam membimbing umat.

Beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menghormati dan mengambil berkah dari para ulama, karena mereka merupakan pewaris Rasulullah Saw yang selalu menginginkan umatnya berada di jalan Allah.

Untuk menegaskan hal tersebut, KH. Ubaidullah membacakan firman Allah Swt.:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan terhadap orang-orang mukmin beliau sangat penyantun lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 128).

Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah Saw merasa sedih apabila umatnya tersesat, melakukan kemaksiatan, dan meninggalkan zikir kepada Allah.

Sifat kasih sayang itu diwarisi para ulama dan para mursyid yang senantiasa menginginkan umat istiqamah dalam iman, rajin berzikir, serta memperoleh petunjuk Allah Swt.

“Orang yang benar-benar menyayangi kita bukanlah yang hanya memberi kesenangan dunia, tetapi yang membimbing kita agar selamat di akhirat,” ungkapnya.

KH. Ubaidullah kemudian memberikan perumpamaan tentang warisan. Menurutnya, banyak orang tua meninggalkan rumah, sawah, atau harta benda kepada anak-anaknya. Namun tidak sedikit yang akhirnya justru diperebutkan hingga menimbulkan perselisihan.

Sebaliknya, para ulama mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni ilmu, sanad, dan zikir yang menjadi bekal keselamatan dunia maupun akhirat.

“Mbah Ibrahim Brumbung tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan sanad zikir yang mengantarkan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat,” tuturnya.

Lebih lanjut KH Ubaidullah mengajak jamaah syahādatan fid-dunyā wa syahādatan fil-ākhirah (bahagia di dunia dan bahagia di akhirat),.

Beliau kemudian membacakan firman Allah Swt, yang artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Menurutnya, para kiai mengajarkan zikir agar hati manusia menjadi tenang (ṭuma’ninah), hidup penuh keberkahan, dan memperoleh keselamatan hingga akhirat. Inilah bentuk kasih sayang para ulama kepada umat.

KH. Ubaidullah juga mengajak jamaah untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Saw agar memperoleh syafaat beliau. Menurutnya, mengikuti sanad para guru hingga Rasulullah merupakan bagian penting dalam menjaga keberkahan ilmu dan amaliah.

Beliau kemudian menceritakan pengalamannya saat mengantar jamaah haji. Dalam rombongan tersebut, ada seorang jamaah asal Jepara yang mengaku bermimpi bertemu Mbah Muslih.

Setelah mimpi itu, jamaah tersebut merasa terpanggil untuk berziarah ke makam Mbah Muslih.

Usai berziarah, ia kembali ke maktab tempat rombongan menginap. Tak lama kemudian, jamaah tersebut mengembuskan napas terakhir.

Peristiwa itu, menurut KH. Ubaidullah, menjadi pelajaran tentang kemuliaan para ulama dan pentingnya menjaga hubungan ruhani dengan para guru melalui istiqamah dalam zikir dan shalawat. Ternyata beliau bukan murid dari Mbah Muslih, sebab ia suka mengamalkan zikir dari Mbah Muslih

Menurut KH Ubaidullah bahwa Mbah Muslih dikenal sebagai sosok yang istiqamah mengamalkan wirid dan shalawat. Di antara amaliah yang beliau baca adalah:

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَأَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِينَ

Alfu alfi ṣalātin wa alfu alfi salāmin ‘alaika yā Sayyidal Mursalīn.

Artinya: “Seribu ribu shalawat dan seribu ribu salam semoga tercurah kepadamu, wahai Penghulu para Rasul.”

Menurut KH. Ubaidullah, istiqamah mengamalkan wirid dan shalawat menjadikan hubungan ruhani antara guru dan murid tetap terjalin sehingga keberkahan sanad terus mengalir.

Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada pola pikir pragmatis yang hanya mengejar kesenangan sesaat tanpa mempersiapkan bekal kehidupan akhirat.

Menurutnya, para ulama selalu membimbing umat agar memikirkan kehidupan yang kekal.

KH. Ubaidullah membacakan firman Allah Swt.:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki.” (QS. Ali ‘Imran: 169).

Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut turun setelah Perang Uhud sebagai penghormatan kepada para syuhada. Dari ayat itu pula umat Islam diajarkan bahwa orang-orang saleh yang berjuang di jalan Allah memiliki kemuliaan di sisi-Nya.

Menurut KH. Ubaidullah, semangat perjuangan itu juga tercermin dalam diri Mbah Ibrahim, yang mengabdikan hidupnya untuk membimbing umat melalui dakwah, tarekat, dan pendidikan agama sehingga manfaatnya terus dirasakan hingga kini.

KH. Ubaidullah kemudian mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan kalangan tarekat.

Menurutnya, sejarah mencatat banyak pejuang kemerdekaan Indonesia berasal dari kalangan pesantren dan tarekat. Mereka bukan hanya ahli berzikir, tetapi juga berada di garis depan dalam melawan penjajahan sebagai bagian dari jihad fi sabilillah.

“Jangan mengira orang tarekat hanya memutar tasbih. Banyak pejuang kemerdekaan berasal dari kalangan tarekat. Mereka berzikir sekaligus berjuang demi agama, bangsa, dan tanah air,” tuturnya. []