Kesehatan

Angka Stunting Tinggi, Kalbe Nutritionals dan Klikdokter Dukung BKKBN Luncurkan Smart Sharing

Avatar
×

Angka Stunting Tinggi, Kalbe Nutritionals dan Klikdokter Dukung BKKBN Luncurkan Smart Sharing

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: CBCOMM

BARISAN.CO – Angka stunting di Indonesia masih tinggi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah kasus stunting yang mencapai 27,67 persen pada 2019.

Angka tersebut masih jauh dari batas toleransi maksimal stunting yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO) yaitu kurang dari 20 persen.

Hingga akhir tahun 2020, status Indonesia masih berada di urutan ke-4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting.

Padahal stunting berdampak pada kualitas kesehatan anak, peningkatan risiko penyakit tidak menular, dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian ekonomi.

Sehingga Presiden Joko Widodo menargetkan kasus stunting di Indonesia bisa ditekan hingga berada di angka 14 persen pada tahun 2024 . Begitu juga dengan angka kematian ibu harus di bawah 183 kasus per 100.000 ibu melahirkan.

Tingginya angka stunting ini erat kaitannya dengan gizi penduduk yang buruk dalam periode jangka panjang. Dimulai dari 1.000 hari pertama atau sekitar tiga tahun kehidupan sejak masih dalam kandungan.  Maka, kekurangan gizi pada ibu hamil memicu stunting.

Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham soal ini. Tak hanya pada kelas menengah ke bawah tapi juga menengah kelas ke atas.

Sinteisa Sunarjo, Group Business Unit Head Woman Nutrition KALBE Nutritionals mengatakan nutrisi memiliki peranan penting pada saat kehamilan hingga menyusui.

“Nutrisi memang mengambil peran penting yang perlu menjadi perhatian lebih bagi calon orang tua baik sejak masa perencanaan, kehamilan, hingga menyusui,” katanya secara virtual, Selasa (4/5/2021).

Di Indonesia sebagian kelahiran bayi sudah dalam kondisi kekurangan nutrisi. Parahnya, mereka dibesarkan dengan kekurangan gizi juga. “Pola makan sekarang umumnya tinggi karbo dan lemak, tapi proteinnya rendah. Serat dari sayur dan buah juga kurang,” kata Sinteisa.

Adapun faktor yang menyebabkan stunting lainnyaadalah buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih dan kurangnya kebersihan lingkungan.

Mengingat kompleksitas masalah stunting di Indonesia, dibutuhkan sinergi berbagai pihak, seperti yang dilakukan PRENAGEN. Salah satu produk unggulan KALBE Nutritionals ini bersama-sama dengan Klikdokter melakukan kolaborasi untuk mendukung pemerintah melalui kerja sama dengan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional).

“Untuk itulah, BKKBN, PRENAGEN, dan Klikdokter menjalin kemitraan strategis untuk mempercepat upaya penurunan angka kasus stunting,” ungkap Sinteisa.

Program kolaborasi BKKBN, PRENAGEN, dan Klikdokter tersebut bertajuk “Smart Sharing: Program Kerja Penurunan Angka Stunting  di Indonesia”.

Program ini akan melakukan serangkaian kegiatan edukasi online maupun offline yang menjangkau dan melibatkan bidan di seluruh Indonesia. Selain itu melakukan pilot project studi observasional dan program intervensi gizi untuk pencegahan stunting di beberapa daerah di Indonesia.

Menurut Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana BKKN dr. Zamhir Setiawan, M.Epid, program Smart Sharing ini akan dimulai pada April 2021. Tujuannya memberikan edukasi seluas-luasnya kepada masyarakat bagaimana mempersiapkan ketahanan kesehatan keluarga untuk mencegah stunting, menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *