Scroll untuk baca artikel
Fokus

Mengurangi Sampah Dimulai dari Diri Sendiri

Redaksi
×

Mengurangi Sampah Dimulai dari Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini

BARISAN.COSaat ini Jabodetabek kembali memberlakukan sistem Pembatasan Skala Berskala Besar (PSBB). Namun siapa sangka, peraturan ini justru membawa kasus baru. Jumlah sampah plastik atau kemasan belanja dari belanja online mengalami peningkatan. 

Tahun lalu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan hasil survei peningkatan sampah kemasan plastik, selotip, dan bubble wrap dari paket pengiriman belanja online selama PSBB.

Hasil dari survei tersebut menyatakan bahwa terjadi peningkatan belanja online dari 1-5 kali per bulan menjadi 1-10 kali per bulan. Tak hanya itu, hasil survei juga menunjukkan bahwa semakin banyak pemakaian pembungkus plastik dalam setiap pengiriman online.

Koordinator Kurikulum Komunitas River Ranger Jakarta Andriana mengatakan, meredam konsumsi selama Work From Home (WHF) dan School From Home (SFH) cukup sulit. Khususnya anak-anak yang makin sering ngemil dan banyak craving-nya.

 “Dengan meningkatnya konsumsi sudah pasti meningkat pula output sampahnya,” ujar Nana kepada tim Barisan.co, Senin (22/02/2021).

Nana kemudian mencari solusi untuk menekan hasrat anak-anaknya untuk jajan snack. Ia banyak mencari resep membuat cemilan di google. Beberapa kali juga memasan frozen food (makanan beku) dari teman-temannya yang berjualan, tetapi dengan catatan pengirimannya harus dalam kotak kemasan yang bisa dipakai ulang.

“Kalau GoFood takut sampahnya, kalau dine-in di restoran masih takut untuk makan di luar. Lebih baik pesan dengan teman, makanan yang pengemasannya menggunakan kotak yang bisa dipakai berulang-ulang. Win-win solution,” lanjut ibu dua anak ini.

Pandemi Covid-19 memang membuat kebanyakan masyarakat lebih memilih belanja online daripada harus repot-repot belanja ke luar rumah. Namun, itu tidak bisa dijadikan alasan.

“Semuanya harus dimulai dari kita sendiri, kita tidak bisa terus-menerus berharap produsen akan peduli untuk mengurangi sampah kemasan, sementara kita sendiri request packaging harus aman dan minta tambahan bubble wrap,” tambah Nana.

Kita bisa mulai dari pertama, memilih penjual yang paling dekat dengan rumah. Dengan begitu, pengiriman bisa dilakukan dengan GoSend.

Kedua, karena menggunakan GoSend, kita bisa meminta penjual untuk meng-customized packaging.

Ketiga, selalu berikan feedback baik dalam bentuk tulisan dan foto packaging di laman penjual untuk memotivasi mereka agar memfasilitasi packanging yang lebih ramah lingkungan lagi.

“Kalau saya biasanya minta menggunakan paper bag atau kotak, tidak perlu bubble wrap dan dilapisi plastik lagi. Jika saya memesan barang yang pecah belah, saya akan minta ditambahkan paper shredder, koran bekas atau sabut kelapa agar aman,” tuturnya.

Sementara itu, komunitas River Ranger Jakarta sudah menghimbau kepada teman-teman agar lebih peduli akan bahaya sampah plastik terhadap lingkungan.

“Yang bisa kami lakukan yaitu terus mengingatkan teman-teman lewat media sosial dan kelas-kelas belajar kami untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan berpikir kembali sebelum membeli,” tambah Nana.

Nana juga menyarankan agar kita bisa memilah sampah belanja online untuk dititipkan ke pengolah sampah seperti Bank Sampah, Waste4change atau Armada Kemasan.

Bubble wrap, kardus atau kotak bisa disimpan dan dipakai ulang. Tetapi, untuk kemasan plastik, selotip, lakban, dipisah dari kertas dan dipilih bersama sampah anorganik lain yang sudah bersih dan kering.

“Yuk belajar untuk terus mulai memilah rutin dan mencari bank sampah terdekat untuk menyetorkannya,” ajak Nana. []