Menuntut Kemampuan Membaca

  • Whatsapp
Menuntut Kemampuan Membaca
Menuntut Kemampuan Membaca Anak tentang Nabi Muhammad Saw

SAYA baca banyak literatur, sosok yang dilahirkan di Semenanjung Arab, 22 April 570, itu begitu santun. Beliau penuh toleransi dan sabar. Pribadi yang dapat dipercaya. Beliau adalah tetangga yang baik, selalu menghindari pertengkaran. Beliau tak pernah mengucap kata-kata makian.

Ketika usia 25 tahun, beliau menikah dengan seorang janda kaya bernama Khadijah. Khadijah waktu itu berusia 40 tahun. Khadijah yang melamar pemuda berhati mulia itu.

Bacaan Lainnya

Pemuda itu, yang tak lain adalah Muhammad, hidup di tengah masyarakat bodoh dan liar. Namun, tak mengurangi semangat untuk mengupas rahasia hidup. Beliau terus mencari rahasia di balik yang tampak. Sampai akhirnya, tanggal 12 Februari 610, rahasia itu terbuka.

Beliau menerima seruan untuk membaca, ayat 1 – 5 surah Al-‘Alaq. Sebuah seruan agar beliau dan segenap pengikut beliau sanggup mendayagunakan ayat atau tanda keagungan Tuhan. Tanda yang termaktub dalam teks suci, maupun ayat yang tergelar di balik ciptaan. Singkatnya, sedianya umat berdaya baca secara optimum.

Nah, membaca riwayat Muhammad adalah mengikuti pohon kehidupan sosok yang mengagumkan. Seorang penyembah yang tulus tunduk kepada Tuhan. Penuh cinta kepada sesama makhluk. Beliau meyakini dan mengajar ketuhanan yang welas asih dan toleran.

Maka, terasa aneh saja, sekira kini kita masih menyaksikan sebagian pengikut beliau justru tidak menjaga keharuman nama beliau. Mereka mengeklaim diri sebagai laskar pembela agama Tuhan. Yang akan begitu sigap menghakimi orang lain, begitu gempita unjuk kekuatan.

Padahal Muhammad Saw. begitu ringan hati mengalah kepada Kaum Quraisy saat perjanjian Hudaibiyah. Beliau tidak memaksa kehendak untuk pamer kalimat basmalah dan gelar rasulullah kepada orang-orang yang tak sepaham. Beliau legawa.

Beliau terbuka dan menerima kehendak mayoritas tatkala memutuskan taktis untuk Perang Uhud. Beliau juga memerintah umat untuk tiada jemu mengais hikmah hingga tutup usia.

Namun, berbeda kemudian dengan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, seorang fanatik Islam abad ke-18. Ia mencampakkan tasawuf, puisi, seni musik, dan teori moral dalam beragama. Menurutnya, segala sesuatu yang tidak datang dari wilayah Arab itu patut dicurigai. Sufisme dari Persia, maka harus ditolak.

Juga filsafat dari Yunani dan Barat. Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab meyakini: Islam itu sederhana, dan sebagai jalan lurus, asal mengimplementasikan teks Al-Qur’an dan Sunnah secara literal, serta menaati praktik ritual yang murni.

Jauh sebelum Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, pada awal Islam tahun 661, belum jauh dari masa kenabian, tumbuh pula kelompok ekstrimis yang melancarkan aksi atas kemelut antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah.

Kelompok ini kemudian terkenal dengan sebutan kaum Khawarij. Bahkan mereka berhasil membunuh Ali. Namun gagal melenyapkan Mu’awiyah, yang berhasil melindungi diri.

Kaum Khawarij memusuhi siapa saja yang bukan golongannya. Mereka mengembangkan konsep “hijrah”, bahwa setiap orang Islam harus berpindah dan bergabung dengan golongan mereka. Jika tidak, maka akan diperangi.

Khaled Abou El Fadl, dalam buku Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, menggambarkan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan pengikutnya ini sebagai Khawarij Islam modern.

Mereka adalah muslim puritan yang mendorong umat Islam untuk kembali pada Islam yang asli dan murni. Islam yang dicipta (kata mereka) oleh Nabi, para sahabat, dan tabiin. Mereka menolak seluruh pengalaman sejarah selain era Nabi dan sahabat. Mereka tak mempercayai demokrasi.

Kemudian, pada 28 Maret 2018, Sukma, putri Presiden pertama RI, membacakan puisi pada acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya. Puisi itu langsung menuai kontroversi karena dianggap melecehkan syariat Islam.

Benarkah Sukma  melecehkan syariat? Saya tidak tahu persis motif Sukmawati saat itu. Saya hanya menangkap Sukma dianggap melakukan fait accompli penutup kepala atau muka (bagi perempuan). Sebagian publik Islam tidak terima. Sukma dituduh melecehkan ayat 59 surah Al-Ahzab, yang memerintahkan kaum perempuan umat Nabi Muhammad untuk mengulurkan jilbab.

Saya, lagi-lagi menangkap itu sebagai kemampuan membaca teks suci, sebagaimana ajakan Nabi Saw. awal. Dan, harus kita akui, kemampuan umat Islam di Indonesia ini masih rendah daya baca. “Padahal, semakin tinggi mutu subjektivitas suatu subjek, makin kaya objektivitas suatu objek.

Jadi kekayaan makna teks kitab, tergantung pada kekayaan pemikiran si penafsir. Sehingga, makin kaya pandangan dan wawasan sang penafsir, objektivitas teks itu pun makin jelas.” ungkap Yudi Latif dalam sebuah diskusi di forum Nurcholish Madjid Society.

Jelasnya, nilai kandungan ayat suci, tergantung siapa yang membacanya. Teks ayat tidak pernah bicara sendiri. Mutu penafsirlah yang menentukan kualitas makna teks. Maka, cara mendekati teks yang begitu saja asal dikutip, seolah teks berkata sendiri apa maunya, adalah awal dari eksklusifisme, dan puritanisme.

Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, dan sebelumnya Kaum Khawarij, mengidap penyakit itu. Padahal masalah kehidupan dan keberagamaan itu akan terus berkembang, tapi tanpa diikuti daya baca memadai, sama saja menutup rupa indah Islam yang diusung Nabi Muhammad Saw.

Walhasil, Islam hadir dan disebut sebagai agama hingga akhir zaman, berarti menuntut kemauan dan kemampuan kita memahami situasi zaman. Karena software kebudayaan itu mempengaruhi cara kita memahami agama, cara menafsir teks, dan mengamalkannya.

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait