Universitas Kehidupan

  • Whatsapp
Universitas kehidupan
Universitas kehidupan alamiah dan ilmiah

Oleh: Syaiful Rozak

Barisan.co – Kanjeng nabi Muhammad Saw pernah bersabda: Menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim. Hadits tersebut nabi Muhammad Saw ternyata wewajibkan untuk menuntut atau mencari ilmu, bukan sekolah atau kuliah.

Bacaan Lainnya

Meskipun sekolah dan kuliah adalah tempat dimana kita belajar atau mencari ilmu, namun ia bukan satu-satunya tempat yang mutlak, dimana pun setiap orang bisa belajar tanpa harus melalui pendidikan formal. Nabi SAW bahkan tidak belajar dalam pengertian formal seperti sekolah atau kuliah. Tapi nabi Saw memiliki ilmu dan hikmah dari Allah Swt.

Wahyu pertama yang turun pada nabi Saw adalah surat Al-Alaq (ayat 1-5:). Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mengajarkan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam sirah nabawiyah dijelaskan, ketika nabi Sawdidatangi malaikat Jibril dan disuruh untuk “membaca” beliau menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Bahkan Jibril mengulangi sampai ketiga kalinya.

Ayat tersebut ada isyarat perintah untuk membaca, sedang nabi SAW adalah seorang ummi (tidak bisa membaca dan menulis).

Lalu timbul pertanyaan: perintah membaca apa? Barangkali itu adalah perintah untuk membaca ayat yang tertulis maupun ayat yang tidak tertulis. Kanjeng nabi Saw mungkin saja membaca apa yang tidak tertulis seperti kehidupan, alam, kondisi masyarakat yang menghantarkan beliau untuk melakukan perenungan, kontemplasi dan merasakan kehadiran Tuhan.

Di ayat selanjutnya disebutkan: Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Manusia adalah makhluk yang dibekali akal dan hati. Dan dengan potensi itu manusia dapat memperoleh pengetahuan.Tuhan tampil sebagai pengajar dan pendidik manusia. Ia layaknya guru atau dosen yang mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya. Tuhan yang Maha Pemurah memberi ilmu bagi setiap hamba yang dikehendaki-Nya.

Belajar Membaca Kehidupan

Manusia bisa belajar dimana saja dan dengan siapa saja. Setiap tempat bisa jadi adalah sekolah dan universitas dan setiap manusia mungkin saja adalah guru atau dosen. Sejak kapan kita memitoskan bahwa satu-satunya pendidikan adalah sekolah dan universitas? Lalu bagaimanakah nasib mereka yang tidak bisa bersekolah dan kuliah karena biaya? Apakah lantas kita mengatakan mereka itu tidak berpendidikan?

Tentu pandangan ini sangat sembrono. Toh nenek moyang kita dahulu, itu tidak mendapatkan pendidikan modern sebagaimana sekolah dan kuliah, akan tetapi mereka tetap dan bisa belajar dari kehidupan sehingga memiliki kearifan dan kebijaksanaan.

Sementara mereka yang bersekolah dan kuliah itu tidak sedikit yang individualistik dan materialistik.

Output kepandaian bukannya kerendah hatian dan kebijaksanaan, melainkan keangkuhan. Output kekayaan bukannya kedermawanan dan kebijaksanaan, tetapi kesombongan dan riya. Punya kekuatan bukannya semakin lemah lembut dan welas asih, melainkan semena-mena dan arogansi.

Pendidikan itu seharusnya mengantarkan manusia untuk memahami arti tentang kemanusiaannya, bukan malah sebaliknya. Ini bukan sekolah keangkuhan dan universitas kesombongan.

Saya bukannya anti dengan pendidikan sekolah atau kuliah, justeru sebaliknya. Saya bahkan sangat mencintai ilmu pengetahuan. Dan setiap orang itu berhak mendapatkan pendidikan. Jalannya bermacam-macam, caranya beragam. Di sekolah, di pasar, di jalan raya, di pabrik di rumah dan ditempat manapun orang akan tetap bisa belajar.

Saat kuliah, saya tidak ingin jadi mahasiswa yang cerdas, jenius, cumlaude bahkan lulus tepat waktu. Bagiku jika saya bisa menghormati orang lain itu sudah cukup, asal tidak menyakiti orang lain sudah cukup, asal tidak mengambil barang yang bukan haknya itu sudah cukup. Belum bermanfaat tak masalah, asal tidak mendatangkan madharat. Tak bisa diandalkan pun tak jadi soal, asal tidak menyusahkan.

Kehidupan itu penuh ketidakpastian dan ketidakmenentuan. Multidimensi dan tidak harus linier. Yang pandai tidak pasti sukses, yang bodoh tidak berarti tak punya masa depan. Yang kaya belum tentu bahagia, dan yang miskin belum tentu menderita. Yang nampak indah bisa jadi menipu, yang nampak buruk bisa jadi menyelamatkan. Yang kita benci bisa jadi baik, sedang yang kita sukai bisa jadi itu buruk.

Dalam ketidakpastian dan ketidakmenentuan itu, kita meski harus optimis dalam menjalani hidup. Tuhan melarang untuk berputus asa, karena salah satu ciri orang beriman adalah tidak berputus asa dari rahmat Tuhan.

Saya berusaha untuk tidak memandang orang berdasarkan kaya miskinnya status sosialnya, ataupun jenis pekerjaannya. Saya tidak beranggapan yang kerja pakai sepatu itu lebih mulia daripada yang pakai cangkul. Yang kerja pakai dasi itu lebih terhormat dari pada yang pakai cetok dan palu.

Barangkali mereka yang pergi ke sawah adalah sama mulianya dengan yang pergi ke sekolah. Bisa jadi mereka yang pergi ke laut itu sama terhormatnya dengan yang pergi ke kantor. Bagi saya pribadi, mereka yang bertani kemudian mempelajari ilmu soal tanam, prediksi cuaca, pupuk dan memanen barangkali adalah sarjana-sarjana kehidupan tanpa gelar akademik. Mereka belajar tentang kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalamanya.

Para nelayan adalah sarjana kehidupan yang paham soal ilmu ikan, arah angin dan ahli renang. Bahkan ibu-ibu yang menyusui anaknya barangkali adalah sarjana-sarjana spesialis merawat dan membesarkan anak. Lagian Tuhan yang welas asih itu kan tidak hanya memberi ilmu pada mereka yang ada di sekolah-sekolah, kampus-kampus ataupun kantor, tetapi untuk setiap hamba yang dikehendaki-Nya.

Saya rasa, tidak ada salahnya jika kita sedikit belajar tentang arti kehidupan. Membaca kehidupan, membaca ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis kemudian merenung agar diri kita semakin dekat dengan Tuhan. Saya jadi teringat firman Tuhan: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Jepara, 28 November 2020

Redaksi

Pos terkait