Yudi Latif, Tiga Ranah Sosialisasi Pancasila

  • Whatsapp
Yudi Latif
Yudi Latif: Jangan Cemaskan Pancasila/Foto: MedcomId

HARI-HARI ini saya tertarik mengikuti webinar yang bernarasumber Yudi Latif. Saya merasakan keteguhannya mengusung Pancasila. Keluasan wawasan dan kedalaman endapan, sehingga menyimak paparannya benar-benar sajian menu yang kaya gizi.

Sepertinya, Kang Yudi, sapaan akrab Yudi Latif, berpegang pada ayat “Tidak semestinya semua orang mukmin pergi berperang. Alangkah baiknya bila ada segolongan yang memperdalam agama, untuk kemudian mengajarkannya.” (At-Taubah: 122).

Bacaan Lainnya

Kang Yudi berkeliling memperdalam dan mengajar “agama sipil” (Pancasila). Ia seolah hendak mengabarkan bahwa kepancasilaan dan keislaman itu bertautan. Antara syariah Islam dengan sila-sila Pancasila itu tidak bertentangan.

Dan, kita mafhum tujuan syariah itu untuk mewujudkan kemaslahatan hidup bersama. Maslahat adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan, faedah, kebahagiaan. Jadi syariah mengandaikan kebahagiaan bersama menjadi manusia seutuhnya.

Dalam khazanah klasik Islam, kita kenal istilah al-dharuriyyat al-khamsah. Dharuriyyat adalah segala sesuatu yang mendasar dan esensial bagi kelangsungan dan perlindungan kepentingan atau hak. Khamsah artinya lima.

Sehingga, ada lima nilai pokok yang harus dipenuhi atau dilindungi syariah, yaitu: agama (din, religion), kehidupan (nafs, life), keturunan (nasl, lineage), akal (‘aql, intellect), dan harta (maal, property).

Sekira lima pokok itu terlindungi, niscaya kebahagiaan dan kebaikan pun teraih. Nah, oleh founding fathers republik ini, kelima kemaslahatan itu dirumuskan menjadi Pancasila, yang menjadi filsafat, pandangan hidup, serta ideologi negara.

Kemaslahatan agama dimanifestasikan sebagai sila pertama. Kemaslahatan kehidupan atau jiwa diwujudkan dalam sila kedua. Kemaslahatan keturunan mewujud sila ketiga.Kemaslahatan akal manifes dalam sila keempat. Dan, kemaslahatan harta dihadirkan sebagai sila kelima.
Besar harapan, manusia seutuhnya yang dicitakan syariah itu pun mewujud. Lantas, “apa itu manusia seutuhnya?” tanya Yudi Latif, dalam sebuah obrolan di Forum Titik-Temu.

Cendekiawan muslim yang lahir di Sukabumi itu, dan pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), mengutip beberapa ayat suci Al-Quran yang menyebut bahwa manusia hadir ke muka bumi ini dalam tiga dimensi: dimensi biologis (basyar), dimensi rohani (insan), dan dimensi sosial (nas). Artinya, manusia seutuhnya itu meliputi tiga dimensi.

Dari tiga dimensi tersebut, Kang Yudi menyusun pola transformasi yang berbasis Pancasila, yaitu al-insan sebagai dasar tata nilai (ranah mental-karakter) merujuk sila pertama, kedua, dan ketiga; al-nas sebagai tata Kelola (ranah institusional-politikal) merujuk pada sila keempat; dan al-basyar sebagai tata sejahtera (ranah material-teknologikal) merujuk sila kelima.

Tiga ranah—mental-karakter, material-teknologikal, dan institusional-politikal—selaras dengan konsep jatuh-bangun peradaban yang dipapar Arnold Toynbee. Toynbee mengungkap, sebagaimana dituturkan Kang Yudi, pertama, suatu peradaban akan bertahan selagi masih memiliki landasan visi spiritualitas. Spiritual adalah sisi terdalam, sebagai basis immaterial. Ia berupa jiwa-jiwa berkarakter, sebagai jantung pertahanan terakhir dan terdalam suatu peradaban.

Kedua, selain sisi terdalam, ada sisi paling luar yakni sains dan teknologi. Sisi paling permukaan, yang tampak, sebagai ranah material. Jadi, ada wilayah immaterial, yang diistilahkan dalam kitab suci “iman” dan ada wujud material, berupa sains dan teknologi sebagai produk ilmu pengetahuan. “Allah pasti akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berpengetahuan di antaramu beberapa tingkat lebih tinggi.” (Al-Mujadilah: 11).

Ketiga, di antara immaterial dan material, di antara dimensi spiritualitas dan wilayah teknologi, terdapatlah institusi yang mengelola. Ada sistem pengelolaan yang memanajeri peradaban. “Aku akan menciptakan khalifah di bumi.” (Al-Baqarah: 30).

Selanjutnya, ranah immaterial (mental-karakter) di sini adalah upaya pengembangan suasana kejiwaan dan pola pikir yang berkepribadian (berkarakter). Yaitu suasana jiwa dan pola pikir berketuhanan yang lapang dan toleran; welas asih dengan sesama manusia; dan nyaman dengan ruang hidup (tanah air) serta pergaulan hidup yang manjemuk.

Singkatnya, sebuah tata nilai yang berspirit ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan. Sehingga bersuburlah daya-daya spiritualitas yang berperikemanusiaan dan sanggup menjalin persatuan dengan bersemangat pelayanan (pengorbanan). Dan, Kang Yudi menandaskan agen utama di ranah ini adalah komunitas.

Terus, ranah institusional-politikal adalah kekhalifahan yang mengandaikan adanya bangunan sosial-politik yang bercita kerakyatan, bercita permusyawaratan, dan bercita hikmat-kebijaksanaan. Agen utama tata kelola adalah penyelenggara negara dan kepemimpinan politik.
Kemudian, ranah material-teknologikal sebagai tata sejahtera.

Sebagai wujud nyata suatu negeri menjadi bangsa yang mandiri dan berkesejahteraan. Bangsa yang mengupayakan perekonomian merdeka dan berkeadilan, serta bangsa yang berlandaskan tolong-menolong. Agen utama di tata sejahtera ini adalah dunia usaha.

Nah, ketiga ranah tersebut berbeda tapi tak terpisahkan. Mereka saling bertaut. Bahwa wilayah revolusi spiritual itu perlu dukungan kebijakan politik dan kesejahteraan segenap rakyat. Bahwa perubahan politik itu mensyaratkan kemapanan kultur nilai dan keamanan perekonomian.

Bahwa urusan sandang, pangan dan papan itu berkait erat dengan nilai spirit yang kukuh dan peraturan perundangan yang baik. “Niscaya, sosialisasi dan internalisasi Pancasila akan menemu wujud sekira mencakup tiga ranah tersebut,” ungkap Kang Yudi.

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait