Tumbuh, tapi belum sepenuhnya produktif, itulah gambaran penyaluran kredit perbankan di awal 2025
Oleh: Beta Wijaya
(Bankir Muda)
PERKEMBANGAN sektor perbankan nasional pada awal 2025 menunjukkan dinamika yang menarik untuk dicermati. Berdasarkan data terbaru, realisasi penyaluran kredit perbankan pada Februari 2025 tercatat sebesar Rp7.825 triliun, mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,30% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Februari 2024 yang sebesar Rp7.095 triliun.
Meski pertumbuhan tahunan ini menunjukkan perbaikan dari sisi nominal kredit yang disalurkan, namun secara year to date (YtD), pertumbuhan kredit justru mengalami pelemahan tipis sebesar -0,08%. Hal ini tercermin dari angka penyaluran kredit perbankan pada akhir Desember 2024 yang tercatat sebesar Rp7.832 triliun, lebih tinggi dibandingkan posisi Februari 2025.
Pelemahan YtD ini menjadi sinyal penting bagi sektor keuangan dan perekonomian nasional, mengingat penyaluran kredit yang idealnya terus tumbuh secara konsisten untuk menjaga momentum pemulihan dan ekspansi ekonomi.
Sementara itu, kredit konsumsi masih mencatatkan laju pertumbuhan yang cukup solid. Pada Februari 2024, kredit konsumsi tumbuh sebesar 9,54% YoY, dan meningkat menjadi 10,31% YoY pada Februari 2025.
Pertumbuhan di segmen ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat masih tetap terjaga. Namun, perlu dicatat bahwa pertumbuhan kredit konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan kredit modal kerja dapat mencerminkan orientasi kredit yang lebih banyak terserap ke sektor non-produktif.
Selanjutnya mengenai dominasi kredit investasi, salah satu catatan positif dalam struktur pertumbuhan kredit adalah dominasi dari kredit investasi.
Pada Februari 2025, kredit investasi tumbuh sebesar 14,62% YoY, melanjutkan tren pertumbuhan yang sudah tercatat sebesar 12,04% YoY pada Februari 2024.
Pertumbuhan kredit investasi ini menunjukkan adanya keberlanjutan dalam pembiayaan sektor-sektor produktif jangka panjang, seperti pembangunan infrastruktur, pengembangan sektor industri, dan ekspansi kapasitas produksi. Dorongan di sektor ini penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan panjang.
Meskidemikian kredit modal kerja justru mengalami laju penurunan pertumbuhan, kredit modal kerja yang seharusnya menjadi indikator aktivitas ekonomi harian dan produksi jangka pendek, justru menunjukkan tren pelemahan.
Pada Februari 2024, kredit modal kerja tumbuh sebesar 9,54% YoY, namun mengalami perlambatan menjadi hanya 7,66% YoY pada Februari 2025.
Pelemahan kredit modal kerja ini perlu menjadi perhatian, karena dapat mengindikasikan adanya perlambatan dalam aktivitas produksi, perdagangan, serta aktivitas operasional bisnis. Jika berlanjut, kondisi ini berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi nasional ke depan.
Dari keseluruhan portofolio kredit tersebut, dapat disimpulkan bahwa struktur pertumbuhan kredit perbankan cenderung kurang produktif.
Meskipun kredit investasi menunjukkan tren positif, porsi kredit konsumsi yang terus tumbuh, sementara kredit modal kerja melemah, mengindikasikan bahwa dorongan terhadap sektor-sektor produktif belum optimal.
Ketidakseimbangan ini perlu menjadi perhatian baik bagi regulator, pelaku perbankan, maupun otoritas fiskal, untuk merancang kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan kredit yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Instrumen-instrumen pendukung seperti penjaminan kredit, stimulus fiskal, hingga kebijakan moneter yang akomodatif perlu diarahkan untuk mempercepat pemulihan sektor produksi dan mendorong investasi baru.
Ke depan, memperkuat fundamental pertumbuhan kredit menjadi kunci agar sektor keuangan tidak hanya tumbuh secara nominal, namun juga mampu menjadi motor penggerak utama bagi perekonomian nasional. []









