Damardjati Supadjar, Lahir-Batin Mengajarkan Pancasila

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Di satu ceramahnya, Guru Besar Filsafat UGM Prof Dr Damardjati Supadjar mengatakan kalimat yang cukup membingungkan, “Pancasila belum lahir.”

Kedengarannya seperti celetukan khas Damardjati Supadjar yang aneh-aneh itu. Namun, arah maksudnya baru dapat ditangkap saat ucapannya dilengkapi, bahwa: Pancasila belum lahir, sebab pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 itu baru sebatas batin tentang dasar negara.

Bacaan Lainnya

Damardjati Supadjar melanjutkan, “Di mata filsafat, sesuatu yang masih batin sejatinya belumlah lahir. Pancasila baru dapat disebut lahir, kalau keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sudah terwujud.”

Cara pandang lahir-batin Pancasila dari Damardjati Supadjar itu menarik. Sekaligus menunjukkan kedalaman pandangan seorang filsuf seperti dirinya.

Dalam kenyataannya, kita memang belum pernah tahu rasanya keadilan sosial yang menyeluruh itu. Mewujudkannya pun bukanlah hal mudah.

Keadilan sosial, menurut Damardjati Supadjar, lebih mudah diwujudkan dengan anggapan dasar bahwa sila-sila dalam Pancasila merupakan ‘urutan organis’ yang harus disikapi lewat kesadaran bersama. Dan oleh karena perlu kebersamaan, sila keempat menjadi penting dibicarakan terus-menerus.

Damardjati menulis, “Hal-hal yang melatar-belakangi ideologi kita dengan jelas tertera pada sila pertama, kedua, dan ketiga. Sedangkan yang melatar-depani adalah sila kelima. Yang aktual dan yang selalu harus aktual ialah sila keempat.”

Pancasila: Sebuah Proses

Damardjati Supadjar lahir di Magelang, 30 Maret 1940. Ia mengajar filsafat dan terus melakukannya sampai pensiun dari UGM pada tahun 2010. Di luar mengajar, ia juga adalah penasihat Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Biografi pikiran Damardjati Supadajar terbilang solid. Selain kental meneladani filsuf Jawa seperti Ronggowarsito, ia juga dipengaruhi WS Sahakian, Pyotr Ouspenskii, dan Fritjof Capra.

Dalam kaitannya Pancasila, nama Notonagoro dan Alfred Whitehead sepertinya berpengaruh lebih besar dibanding nama-nama lain.

Pandangan Pancasila Damardjati Supadjar terutama datang dari filsafat proses Alfred North Whitehead, bahwa ‘dunia fakta’ senantiasa berubah dan mengalir (becoming of continuity).

Filsafat proses Whitehead ini kemudian sering diterjemahkan ke dalam pikiran Jawa Damardjati menjadi sangkan-paraning-dumadi (dari mana, sampai mana, mau ke mana).

Adalah penting, menurut Damardjati, memahami sangkan paran Pancasila. Dari ceramah-ceramahnya, bisa dimengerti bahwa lima butir ayat dalam Pancasila merupakan kesatuan organis yang pada prosesnya saling memengaruhi.

Sekuat apa akarnya (sila pertama, kedua, dan ketiga), akan memengaruhi bagaimana pelaksanaannya (sila keempat), dan menentukan seberapa berkualitas resultante akhirnya (sila kelima).

Dalam pengamalan Pancasila di kehidupan sehari-hari, filsafat proses Damardjati Supadjar terlalu berharga dilewatkan. Kesadaran proses sekurang-kurangnya dapat menghindarkan kita dari godaan untuk melakukan lompatan kesimpulan (jump to conclusion). Begitupun sebaliknya, berkat sadar proses, identifikasi persoalan Pancasila dapat dilakukan lebih cermat.

Dengan sendirinya sadar proses juga menjauhkan kita dari upaya-upaya mubazir. RUU HIP yang belum lama distop itu satu contoh, ketika ada semacam kesembronoan kesimpulan bahwa persoalan Indonesia bisa selesai cukup dengan gotong-royong sila keempat saja, sembari menyingkirkan proses di balik sila-sila lainnya.

Hubungan Pancasila dan Benda-benda

Semasa hidupnya, Damardjati Supadjar juga sering mewanti-wanti akan adanya ‘bahaya’ di sela-sela Pancasila. Betapapun Pancasila sudah merangkum hubungan manusia dengan Allah Swt, serta hubungan manusia dengan sesamanya, ia belum eksplisit menunjukkan bagaimana hubungan manusia dengan benda-benda.

Kekhawatiran Damardjati Supadjar beralasan. Dunia modern sudah terlalu berwajah materialisme. Sialnya, hubungan manusia dan benda sering kali membatalkan hubungan-hubungan lainya. Damardjati mengingatkan, dengan mengutip kuotasi Raden Sosrokartono: “Bondho iku bondo (harta itu membelenggu)”

Peringatan Damardjati Supadjar berlaku kepada siapapun. Namun jelas, sebagai pemilik saham terbesar atas praktik pengamalan Pancasila, pemerintah adalah objek sentral yang tak luput dari kritik Damardjati. Terutama tentang bagaimana hubungan pemerintah dengan kebendaan, misalnya: utang.

“Kenyataannya kita memang berebut ‘uang’ Bank Dunia, bukannya merebut ilmu ekonominya,” tulis Damardjati Supadjar, dalam risalah yang ditulisnya berjudul Kecerdasan Kolektif dalam Mewujudkan Nilai Kejuangan Universitas Gajah Mada (8:2005).

Damardjati Supadjar menilai, sering dilupakannya konsekuensi “apabila, maka” saat berhubungan dengan benda, menjadi penyebab maraknya pembacaan terbalik atas sebuah tanda. Sehingga yang terjadi bukannya ‘sakit dahulu senang kemudian’, melainkan ‘senang dahulu menghabiskan utangan, susah generasi kemudian mengembalikan pinjaman’.

Hingga setua tubuhnya mengizinkan, Damardjati Supadjar masih setia menulis sebagai bentuk pengabdian bagi umat manusia. Pemikirannya dituangkan dalam banyak buku, antara lain Filsafat Ketuhanan Menurut Alfred North Whithead; Mawas Diri; Nawangsari; dan Sumurupa Byar-e.

Sekitar pukul 17.05 WIB, tanggal 17 Februari 2014, Damardjati Supadjar berpulang. Ia pergi dengan mewariskan sejumlah pemikiran yang belum banyak disentuh oleh diskusi akademik, lebih-lebih publik.

Avatar
Latest posts by Ananta Damarjati (see all)

Pos terkait